PEKALONGAN, Beritajateng.id – Petani tambah di Desa Mulyorejo, Kecamatan Tirto, terpaksa melakukan panen lebih awal. Hal ini dilakukan untuk menghindari risiko kerugian lebih besar akibat ancaman banjir bandang.
Petani tambak setempat, Wahidin, mengungkap hujan dengan intensitas tinggi menyebabkan kondisi sungai memburuk. Air sungai yang keruh mengalir ke area tambak dan berdampak langsung pada kualitas air serta pertumbuhan ikan.
“Curah hujan masih besar, sungai kondisinya juga kurang bagus karena airnya keruh semua. Jadi dari petani inisiatif, sebelum ada banjir bandang, terpaksa dipanen,” ujar Wahidin saat ditemui, Rabu, 21 Januari 2026.
Ia menjelaskan, panen yang dilakukan saat ini sebenarnya belum ideal. Normalnya, ikan masih harus dipelihara sekitar satu bulan lagi agar hasil panen maksimal. Namun karena kondisi cuaca yang tidak menentu, ikan terpaksa dipanen di usia lima bulan.
Dampak dari panen dini tersebut, kata dia, membuat hasil produksi menurun. Jika dalam kondisi normal petani dapat memanen hampir empat ton ikan, kali ini hasil panen hanya mencapai sekitar tiga ton.
Meski demikian, Wahidin menyebut belum terjadi kerugian besar karena belum ada banjir bandang seperti kejadian sebelumnya.
“Kerugian besar belum, karena belum ada banjir besar. Tapi kalau bibit, banyak yang mati karena airnya keruh total,” jelasnya.
Menurut Wahidin, kerugian paling terasa justru terjadi pada bibit ikan. Kondisi air yang keruh, suhu yang dingin, serta kualitas air yang menurun menyebabkan tingkat kematian bibit cukup tinggi. Hal ini membuat petani memilih menunda penebaran bibit baru.
“Kami belum berani tebar bibit lagi. Nunggu cuaca balik dan airnya jernih, mungkin sekitar satu bulanan. Kalau dipaksakan, bibit banyak yang mati,” katanya.
Saat ini, sebagian besar petani tambak di wilayah tersebut juga merasa khawatir karena sistem tambak yang digunakan sudah tidak memakai pematang, melainkan waring. Kondisi ini dinilai rawan jika terjadi banjir bandang.
“Sekarang pakainya waring semua, tidak pakai pematang. Kalau banjir bandang, bisa ambrol semua. Mau panen malah ruginya besar, makanya terpaksa dipanen sebelum kejadian,” ungkapnya.
Wahidin berharap pemerintah dapat memberikan perhatian, khususnya melalui bantuan bibit ikan bandeng, mengingat sektor bandeng menjadi salah satu andalan perekonomian masyarakat setempat. Ia juga mengimbau masyarakat untuk bersama-sama menjaga lingkungan agar risiko banjir bandang dapat diminimalisir.
“Cuaca ekstrem seperti sekarang ini kerugiannya besar bagi petani. Kita juga harus jaga alam supaya tidak terus terjadi banjir bandang,” pungkasnya.
Jurnalis: *Red
Editor: Tia















