REMBANG, Beritajateng.id – Jumlah permohonan nikah di Kabupaten Rembang pada bulan Syawal 1447 Hijriah mengalami peningkatan signifikan. Hingga saat ini, tercatat sebanyak 528 pasangan calon pengantin (catin) mendaftar melalui 14 Kantor Urusan Agama (KUA).
Data dari Seksi Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam Kementerian Agama (Kemenag) Rembang menunjukkan, angka tersebut naik sekitar 20 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Pada Syawal 1446 H atau 2025 Masehi, jumlah peristiwa nikah tercatat sebanyak 440, atau bertambah sebanyak 88 permohonan nikah.
Kasi Bimas Islam Kemenag Rembang, Sarip, mengatakan jumlah tersebut masih bersifat sementara dan kemungkinan masih akan bertambah.
“Permohonan kehendak nikah bisa diajukan maksimal 10 hari sebelum hari pelaksanaan akad. Jadi angka ini belum final,” ujarnya, Jumat, 27 Maret 2026.
Ia menjelaskan, sebagian pernikahan sudah dilaksanakan, sementara sisanya dijadwalkan berlangsung baik di kantor KUA maupun di luar kantor.
Menurut Sarip, bulan Syawal menjadi salah satu periode favorit masyarakat untuk melangsungkan pernikahan. Selain Syawal, bulan Dzulhijjah dan Rabiul Akhir juga dikenal memiliki angka pernikahan yang tinggi.
Permohonan kehendak nikah tersebut tersebar di seluruh kecamatan di Rembang. KUA Kragan dan Sarang menjadi wilayah dengan jumlah tertinggi, masing-masing 65 permohonan. Disusul KUA Sedan sebanyak 55 dan KUA Rembang 50 permohonan.
Sementara itu, beberapa kecamatan lain mencatat angka yang bervariasi, seperti Kaliori (40), Pamotan (38), Lasem (44), serta Pancur (32). Adapun jumlah terendah tercatat di KUA Gunem dengan 12 permohonan.
Sarip menuturkan pelayanan pernikahan di KUA tetap berjalan optimal meski pegawai berkerja dengan siswa Work from Home (WFH). Hal ini dirasakan oleh masyarakat yang melangsungkan akad nikah di awal Syawal.
Untuk mempermudah masyarakat, Kemenag menyediakan layanan pendaftaran nikah secara daring melalui aplikasi SIMKAH. Sarip menegaskan, meskipun ada kebijakan WFA, pelayanan kepada masyarakat tetap menjadi prioritas.
“KUA harus tetap profesional dalam memberikan pelayanan, baik di dalam kantor maupun di luar kantor,” tegasnya.
Salah satu pengantin, M. Syafiqul Umam, mengaku sempat khawatir pelayanan terganggu akibat sistem kerja tersebut. Namun, kekhawatiran itu tidak terbukti.
“Petugas tetap datang tepat waktu, prosesnya juga berjalan khidmat dan tertib,” katanya.
Kepala KUA Kragan, M. Ali Akhyar, menyebut Syawal sebagai salah satu periode tersibuk bagi KUA.
“Biasanya memang tinggi, selain bulan besar seperti Dzulhijjah dan Rabiul Akhir,” ujarnya.
Jurnalis: Ibnu Muntaha
Editor: Tia















