REMBANG, Beritajateng.id – Puluhan siswa hingga guru di SMPN 5 Rembang mengajukan izin sakit pada Rabu, 5 Agustus 2026. Ketidakhadiran siswa dan guru secara serentak ke sekolah itu diketahui karena mengalami keluhan serupa berupa perut mulas dan diare.
Berdasarkan data, terdapat 94 siswa yang tidak hadir karena sakit. Jumlah ini terdiri dari 31 siswa kelas VII, 25 siswa kelas VIII, dan 38 siswa kelas IX. Sementara itu terdapat tujuh guru dan empat pegawai tata usaha (TU) yang juga tidak berangkat ke sekolah.
Kepala SMPN 5 Rembang, Menik Mustikatun, sendiri mengaku turut merasakan gejala serupa. Meski demikian, ia tetap masuk kerja dan baru mengetahui banyak siswa tidak hadir setelah tiba di sekolah.
Kepala Bidang SMP Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Dindikpora) Kabupaten Rembang, Ngadiyono, mengatakan siswa yang tetap mengikuti kegiatan belajar mengajar pada hari itu sebanyak 42 anak. Meski berangkat, mereka juga mengeluhkan diare.
“Pihak sekolah langsung berkoordinasi dengan puskesmas terdekat. Tim medis kemudian memeriksa kondisi kesehatan para siswa di ruang UKS,” ujarnya saat dimintai keterangan.
Ia mengungkap hasil pemeriksaan sementara menunjukkan kondisi para siswa relatif stabil.
“Rata-rata hasil pemeriksaan tensi darah normal. Hanya ada enam anak yang suhu tubuhnya agak tinggi sehingga diberi paracetamol. Untuk yang dirawat, sementara ini belum ada informasi,” jelasnya.
Ngadiyono yang juga menjadi Person in Charge (PIC) penyaluran Program Makan Bergizi Gratis (MBG) jenjang SMP di Kabupaten Rembang menegaskan, hingga kini penyebab banyaknya siswa dan guru yang mengalami diare masih belum diketahui.
“Untuk penyebabnya kami belum tahu. Kami masih menunggu hasil pemeriksaan dari Dinas Kesehatan,” tegasnya.
Peristiwa ini sempat dikaitkan dengan menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dibagikan pada Selasa, 4 Agustus 2026, yakni nasi liwet, tempe kering, telur balado, semangka, dan susu.
Namun, menurut Ngadiyono, sebelum makanan dibagikan, pihak sekolah telah melakukan pengecekan dan tidak menemukan indikasi makanan basi maupun kondisi yang mencurigakan.
“Sebelum MBG dikonsumsi sudah dicek oleh pihak sekolah. Tidak ada makanan yang basi maupun kendala lainnya. Kami juga sudah bertemu pihak SPPG dan mereka menyampaikan masih menunggu hasil pemeriksaan dari Dinas Kesehatan,” katanya.
Program MBG di SMPN 5 Rembang saat ini disuplai oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Mondoteko 3 Rembang. Sementara itu, penyaluran MBG pada Rabu, 5 Agustus 2026 tetap berlangsung dengan pengawasan dari pihak sekolah.
“Kami selalu mengimbau kepada pihak sekolah agar melakukan pengecekan terlebih dahulu sebelum MBG dibagikan kepada siswa,” tambah Ngadiyono.
Hingga Rabu sore, Koordinator Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) Kabupaten Rembang, Aprilia Qoulan Syaqila, belum memberikan tanggapan saat dikonfirmasi mengenai kejadian tersebut.
Sebagai catatan, pada Oktober 2025 lalu SMPN 5 Rembang juga sempat mengembalikan sekitar 700 porsi MBG karena nasi dinilai tidak layak konsumsi. Saat itu penyedia layanan SPPG yang menyalurkan MBG merupakan pihak yang berbeda dengan penyedia saat ini.
Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang juga diketahui masih melakukan penelusuran untuk memastikan penyebab munculnya gejala diare yang dialami puluhan siswa, guru, dan tenaga kependidikan SMPN 5 Rembang.
Jurnalis: Vicky Rio
Editor: Tia















