PEKALONGAN, Beritajateng.id – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Kabupaten Pekalongan menyiapkan konsep sekolah panggung bagi wilayah yang rutin terdampak banjir rob, seperti Kecamatan Tirto, Siwalan, dan Wonokerto.
Berdasarkan analisa empat tahun terakhir, wilayah tersebut kerap mengalami banjir rob sehingga membutuhkan penanganan berbeda. Banjir tersebut selain menggenangi jalan dan rumah, juga merendam sekolah. Sehingga aktivitas pembelajaran menjadi terganggu.
Kepala Dindikbud Kabupaten Pekalongan, Kholid, mengatakan selama ini penanganan banjir dilakukan dengan peninggian fisik bangunan sekolah yang membutuhkan biaya besar. Ia menilai konsep sekolah panggung lebih efektif dan efisien dibandingkan peninggian bangunan yang harus dilakukan berulang kali.
“Kalau kita hitung, biaya sekolah panggung justru lebih ringan. Dibandingkan setiap tahun meninggikan bangunan fisik sekolah, konsep sekolah panggung yang dibangun bertahap akan lebih efektif,” jelasnya, Senin, 2 Februari 2026.
Ia mencontohkan sekolah di wilayah Karangjompo yang beberapa tahun lalu mendapat bantuan peninggian bangunan lebih dari satu meter dengan anggaran hampir Rp3 miliar, bahkan sempat digunakan sebagai lokasi pengungsian. Namun pada awal 2026, air kembali masuk ke area sekolah tersebut.
“Dengan skala anggaran Rp3 miliar, sebenarnya bisa digunakan untuk membangun sekitar tiga lokal sekolah. Menurut analisa saya, itu akan lebih efektif,” ungkapnya.
Konsep sekolah panggung tersebut direncanakan mulai diusulkan pada 2027, mengingat program tahun 2026 telah disahkan. Selain menunjang kegiatan belajar mengajar, bangunan sekolah panggung juga berpotensi difungsikan sebagai tempat pengungsian dan pusat edukasi kebencanaan saat terjadi bencana.
“InsyaAllah, ini adalah konsep yang sedang kita diskusikan dengan teman-teman di bidang terkait, sambil kita melakukan studi yang ada di daerah Demak dan Kudus,” ucapnya.
Kholid menerangkan, saat ini beberapa sekolah masih menerapkan pembelajaran daring mengingat banjir yang merendam bangunan itu. Ia menegaskan, kebijakan tersebut merupakan bentuk perlindungan terhadap keselamatan peserta didik, pendidik, dan tenaga kependidikan.
“Bagi sekolah yang sampai hari ini masih terdampak banjir atau masih terendam air, maka pembelajaran tetap dilakukan secara daring. Jangan sampai ada kondisi sekolah yang membahayakan siswa,” kata Kholid.
Kebijakan tersebut merujuk pada Surat Edaran Dindikbud Kabupaten Pekalongan Nomor P/400.3.1/196/2026 tertanggal 19 Januari 2026, yang didasarkan pada Surat Edaran Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2026 tentang Penyelenggaraan Pembelajaran pada Satuan Pendidikan Terdampak Bencana. Surat edaran itu ditujukan kepada koordinator kecamatan bidang pendidikan serta kepala satuan pendidikan jenjang PAUD, TK, SD, dan SMP negeri maupun swasta yang terdampak banjir dan tanah longsor.
“Sebanyak 82 satuan pendidikan tercatat terdampak banjir pada 17 Januari 2026, yang tersebar di sejumlah kecamatan rawan, seperti Tirto, Siwalan, Wonokerto, Wiradesa, Sragi, Buaran, dan Bojong, dengan jenjang pendidikan mulai dari PAUD, SD, hingga SMP,” jelasnya.
Kholid menjelaskan, Dindikbud telah menggelar rapat koordinasi bersama koordinator wilayah, pengawas, dan penilik pendidikan se-Kabupaten Pekalongan. Dalam rapat tersebut ditekankan pentingnya kepedulian dan pelaporan cepat apabila terdapat sekolah yang masih terdampak bencana.
“Manakala ada sekolah yang masih terdampak, harus segera melapor ke Dinas Pendidikan. Kita pantau terus, jangan sampai ada sekolah yang kondisinya membahayakan siswa,” tegasnya.
Selain pembelajaran daring, Dindikbud juga membuka opsi rekayasa pembelajaran, seperti pembagian jam masuk pagi dan siang, maupun memanfaatkan fasilitas umum milik masyarakat, seperti balai desa, apabila kondisi sekolah tidak memungkinkan.
Ia juga menyoroti kondisi bangunan sekolah, khususnya bagian atap atau eternit yang rawan rusak akibat banjir.
“Kadang ada sekolah dengan kondisi atap yang kurang baik. Itu harus segera diantisipasi, jangan sampai ada siswa yang kejatuhan eternit,” ujarnya.
Kholid berpesan kepada para guru dan siswa agar tetap menjaga semangat belajar, terlebih menjelang pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) bagi siswa kelas VI dan IX.
“Terus belajar melalui daring atau belajar mandiri di rumah. Jaga kesehatan dan jaga semangat dalam proses belajar,” pungkasnya.
Jurnalis: *Red
Editor: Tia















