BLORA, Beritajateng.id – Stok minyak goreng bersubsidi, curah, hingga premium mengalami kelangkaan di Pasar Sidomakmur Blora. Selain itu, harga minyak juga mengalami kenaikan memasuki pekan ketiga Ramadan.
Ali Imron, salah satu pedagang di Blok D Pasar Sidomakmur Blora, mengatakan permintaan minyak goreng curah di pasar sedang mengalami penurunan. Hal itu dipicu oleh harga Minyakita yang merupakan minyak goreng subsidi lebih murah.
“Untuk stok minyak curah masih ada, dan untuk harga naik dari harga Rp18.800 sekarang naik jadi Rp19.000, kalau jual ecer menjadi Rp19.500,” ujar Imron, Kamis, 5 Maret 2026.
Selain itu, Imron mengungkap Minyakita di lapak sejumlah pedagang juga mengalami kekosongan. Bahkan kekosongan tersebut telah terjadi sejak awal Ramadan.
“Sudah dua minggu stoknya terbatas, jadi dari Bulog di setiap lokasi pasar dikasih 5 sampai 15 kardus per titik. Kalau saya dapat 10 sampai 15 kardus. MinyaKita itu kadang 2,3 hari sudah habis dan bahkan satu hari sudah habis,” jelasnya.
Imron mengaku minat masyarakat terhadap Minyakita masih tinggi, karena harganya murah di angka Rp15.700, daripada minyak premium. Namun ia juga menyebut penjualan di tingkat pengecer bahkan mencapai Rp18.000-19.000, setara dengan harga minyak curah.
“Kalau jual itu ya harus di ecer, satu dus itu dibagi-bagi dan yang beli dibatasi. Saya jualnya sesuai dengan aturan pemerintah kalau untuk minyak subsidi. Tapi, untuk stoknya sudah lama kosong,” katanya.
Pedagang lainnya, Sumartini, juga mengaku sudah tidak memiliki stok Minyakita dan minyak curah. Menurutnya permintaan para pembeli ke minyak subsidi terlalu banyak, sementara pedagang hanya mendapatkan kuota terbatas.
“Biasanya langsung habis dan tidak ada tiga jam pasti sudah dibeli sama warga. Sekarang ya jual yang minyak premium atau sedang aja,” ujarnya.
Terpisah, Kepala Bagian Perekonomian Sekretariat Daerah Blora, Puji Ariyanto, mengaku telah mendapat informasi mengenai kenaikan harga bahan pangan di pasar. Pihaknya pun akan segera melakukan operasi pasar dengan tim pencegahan inflasi daerah ke pasar-pasar tradisional.
“Kemungkinan karena ada beberapa komoditas seperti minyak goreng dan cabe ini saat Ramadan banyak pembeli. Banyak juga orang masak dan UMKM banyak pesanan yang membuat harga di pasaran naik,” tuturnya.
Jurnalis: *Red
Editor: Tia















