SEMARANG, Beritajateng.id – Produsen tempa di Semarang turut terdampak melemahnya rupiah yang terjadi dalam beberapa waktu ini. Hal ini lantaran rupiah yang melemah membuat biaya produksi tempe semakin membengkak.
Salah satu produsen tempe asal Semarang, Adib Muharram, mengatakan dalam empat bulan terakhir harga kedelai naik cukup tajam. Dari mulanya sekitar Rp8.000 per kilogram, kini mendekati Rp11.000 per kilogram.
“Sekarang harga kedelai hampir menyentuh Rp11.000 per kilogram,” kata Adib saat ditemui di rumah produksinya di Sambirejo Kota Semarang, Minggu, 24 Mei 2026.
Menurutnya, kenaikan tidak lepas dari kurs dolar yang terus menguat sebab sebagian besar kedelai masih diimpor. Kondisi itu memaksa Adib harus menaikkan harga jual tempe yang awalnya Rp4.000 menjadi Rp5.000. Selain itu kenaikan harga plastik juga mempengaruhi harga jual tempe.
“Kalau lihat potensi kenaikan (harga kedelai) kayaknya kemungkinan besar masih naik. Karena kursnya kan kelihatan makin naik. Selain kedelai, kenaikan harga plastik juga ikut menambah beban produksi. Jika sebelumnya saya mengeluarkan uang 550 ribu untuk satu roll plastik, kini harganya sudah menyentuh Rp1,1 juta. Harganya naik hampir 70 persen, jadi harga tempe ikut dinaikkan,” imbuhnya.
Meski demikian, ia mengaku tetap berusaha bertahan. Salah satu caranya dengan memperkecil ukuran tempe agar tetap terjangkau bagi masyarakat. Adib mengaku situasi saat ini cukup berat karena kenaikan harga tidak sebanding dengan kondisi ekonomi masyarakat.
“Kalau kita menyiasati paling kita mengurangi berat timbangan. Jadi kita bikin produk yang lebih kecil aja. Ketika harga-harga makanan semuanya naik tetapi ternyata ekonominya yang beli juga turun. Jadi akhirnya kan daya beli jadi turun,” ujarnya.
Terpisah Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah July Emmylia mengatakan berkurangnya produksi dan kuota impor menjadi salah satu pemicu kenaikan harga kedelai.
“Memang kenaikan (harga kedelai) disebabkan karena produksi kedelai saat ini berkurang, kuota impor juga berkurang,” kata Emmy.
Untuk menyiasati permasalahan tersebut, Disperindag Jateng terus berkoordinasi dengan pemerintah pusat terkait kebijakan impor kedelai untuk menjaga rantai pasok nasional. Saat ini harga kedelai di pasaran berada di kisaran Rp11.100 per kilogram. Meski naik, Emmy menuturkan harga tersebut masih di bawah Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah yakni Rp12.000 per kilogram.
“Kami terus berkoordinasi dengan kemendag terkait kebijakan penugasan PT Berdikari untuk mengambil alih sebagian besar impor bungkil kedelai hingga 5 juta ton di 2026 ini,” katanya.
Menurutnya langkah itu dilakukan untuk menjaga rantai pasok kedelai tetap stabil. Emmy menyebut impor kedelai Indonesia mayoritas berasal dari Brazil, Amerika Serikat, Kanada, dan Uruguay.
Jurnalis: *Red
Editor: Tia















