SALATIGA, Beritajateng.id – Pemerintah Kota Salatiga melalui Dinas Pangan dan Pertanian (Dispangtan) mengimbau petani untuk tidak menanam padi sementara waktu. Hal ini mengingat debit air di sejumlah saluran irigasi yang masih menurun akibat kemarau.
Plt Kepala Dispangtan Kota Salatiga, Syahdhani Onang Prastowo mengatakan, penurunan debit air pada saluran irigasi sekunder dan tersier mulai terlihat. Kondisi tersebut terutama perlu diwaspadai di kawasan pertanian yang bergantung pada hujan maupun memiliki keterbatasan sumber air.
“Secara umum kondisi masih terkendali karena sebagian besar wilayah baru selesai panen atau berada di akhir musim tanam (MT) II. Tetapi penurunan debit air di saluran irigasi sudah mulai terlihat,” kata Syahdani, Rabu, 23 September 2026.
Dispangtan memperkirakan sekitar 57 hektar lahan pertanian berada di kawasan rawan kekeringan. Rinciannya sekitar 45 hektar berada di wilayah Sidorejo dan 12 hektar di Kecamatan Tingkir.
Wilayah tersebut antara lain mencakup sebagian Kelurahan Pulutan dan Blotongan, Kecamatan Sidorejo, yang merupakan area sawah tadah hujan, serta sebagian Kelurahan Tingkir Tengah, Kecamatan Tingkir.
Menurut Syahdhani, padi sawah menjadi salah satu komoditas yang paling rentan terdampak keterbatasan air. Kekurangan air, terutama pada fase generatif, dapat menyebabkan penurunan produksi hingga risiko puso.
Karena itu, petani di kawasan rawan kekeringan didorong menyesuaikan komoditas dengan kondisi ketersediaan air.
“Petani sudah diedukasi untuk tidak memaksakan menanam padi yang membutuhkan banyak air. Bisa beralih ke palawija seperti jagung dan sorgum atau menggunakan varietas padi berumur genjah dan tahan kering,” ujarnya.
Selain mengubah pola tanam, Dispangtan juga mengoptimalkan program pompanisasi untuk memenuhi kebutuhan air di lahan pertanian. Pompa digunakan untuk mengangkat air dari sumber terdekat, seperti sungai maupun jaringan irigasi air tanah (JIAT), menuju lahan yang membutuhkan.
“Salah satu penerapannya dilakukan bersama kelompok tani Al Barokah di wilayah Sidorejo,” terang Syahdhani.
Dispangtan juga masih mengharapkan dukungan perbaikan jaringan irigasi tersier agar distribusi air ke lahan pertanian dapat lebih optimal.
“Jika kemarau berlangsung lebih panjang dan memicu ancaman gagal panen, pemerintah menyiapkan langkah lanjutan berupa bantuan benih, sarana produksi pertanian (saprodi), serta Cadangan Pangan Pemerintah Daerah (CPPD) bagi petani terdampak,” pungkasnya.
Jurnalis: Angga Rosa
Editor: Utia Lil















