BLORA, Beritajateng.id – Dampak kekeringan di wilayah Kabupaten Blora semakin meluas. Hingga akhir September 2026, tercatat sebanyak 149 desa di 14 kecamatan mengalami krisis air bersih akibat bencana ini.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 132 desa/kelurahan telah menerima bantuan droping air bersih dari BPBD maupun pihak lain yang berkoordinasi dengan pemerintah daerah.
Kabid SDA DPUPR Blora, Surat, mengatakan dampak kekeringan di Kabupaten Blora menyasar sektor pertanian hingga kebutuhan air baku untuk masyarakat.
Pihaknya mengaku telah melakukan koordinasi dengan BPBD hingga BBWS Pemali Juana dan BBWS Bengawan Solo untuk membantu memenuhi kebutuhan air baku untuk masyarakat.
“Sementara ini, langkah-langkah yang kami lakukan bersama BBWS Pemali Juana melakukan droping air bersih,” katanya.
Ia menjelaskan distribusi bantuan air bersih yang dilakukan BBWS Pemali Juana mencapai 430 ribu meter kubik, BBWS Bengawan Solo mencapai 160 ribu meter kubik, sementara dari BPBD Blora mencapai 750 ribu meter kubik.
Diketahui, Pemerintah Kabupaten Blora telah menetapkan status tanggap darurat bencana melalui keputusan yang terbit pada 31 Juli 2026. Status itu mulai berlaku 1 Agustus 2026 dan belum dicabut hingga akhir September 2026.
Jurnalis: Eko Wicaksono
Editor: Utia Lil















