BLORA, Beritajateng.id – Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 18 Blora mengajukan penambangan kuota sebanyak 30 siswa atau satu rombongan belajar (rombel) ke Kementerian Sosial.
Kepala SRMA 18 Blora, Tri Yuli Setyoningrum, menjelaskan saat ini kuota rombel di sekolah tersebut baru ada satu rombel. Satu rombel ini dititipkan ke Sekolah Rakyat di wilayah Rembang
Tri Yuli mengatakan rekrutmen peserta didik baru Sekolah Rakyat menyasar siswa dari keluarga desil 1 dan desil 2 atau kelompok masyarakat dengan tingkat kesejahteraan terendah.
Menurutnya program ini sangat diminati masyarakat. Hal ini terbukti dari sebanyak 107 siswa dari keluarga desil 1 dan 2 yang ikut mendaftar dalam program nasional ini.
“Dari 107 calon peserta didik yang diusulkan, sebanyak 80 siswa lolos screening. Sementara kuota yang tersedia saat ini sebanyak 30 siswa,” ujar Tri Yuli, Senin, 15 Juni 2026.
Ia menjelaskan, sebanyak 50 calon peserta didik yang belum masuk kuota utama, masih memiliki peluang mengikuti screening ulang, apabila terdapat penambahan kuota pada tahap berikutnya.
“Ini kita usulkan penambahan kuota satu rombel atau 30 peserta didik baru ke Kementerian. Jika nanti disetujui akan kita screening ulang dari 50 calon peserta didik baru,” terangnya.
Menurutnya, proses seleksi dilakukan berdasarkan data by name by address yang telah ditetapkan pemerintah. Selain itu, tim juga melakukan verifikasi lapangan untuk memastikan kondisi sosial ekonomi calon peserta didik agar sesuai dengan kriteria yang ditentukan.
“Tim ground checking melihat langsung kondisi rumah, latar belakang keluarga, serta tingkat kesejahteraan calon peserta didik sebagai bagian dari proses verifikasi,” katanya.
Tri Yuli mengungkap penyelenggaraan Sekolah Rakyat untuk wilayah Blora dan Rembang dirancang menampung peserta didik jenjang SMA. Saat ini kuota yang tersedia sebanyak 120 siswa, terdiri atas 90 siswa dari Kabupaten Rembang dan 30 siswa dari Kabupaten Blora.
Secara nasional, program Sekolah Rakyat dirancang untuk memberikan akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem. Program tersebut mencakup jenjang SD, SMP, dan SMA dengan sistem pendidikan berasrama.
“Program Sekolah Rakyat diharapkan dapat memperluas akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu sehingga mereka memperoleh kesempatan yang sama untuk mendapatkan pendidikan yang layak dan berkualitas,” kata Tri Yuli.
Jurnalis: *Red
Editor: Tia















