BLORA, Beritajateng.id – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Blora menargetkan setiap satu desa memiliki satu hektar lahan pertanian organik. Hal ini bertujuan memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.
Hal ini disampaikan Bupati Arief Rohman saat memamerkan perkembangan pertanian organik di wilayah Blora pada Muktamar Petani Nahdliyyin di Pesantren Al-Itqon, Desa Tlogosari Wetan, Kecamatan Pedurungan, Kota Semarang, baru-baru ini.
Kegiatan tersebut melibatkan jaringan LPP NU dari sejumlah wilayah, termasuk Jawa Tengah, Jawa Timur, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Barat, dan Banten.
Pada acara tersebut juga dilakukan diskusi sektor pertanian yang merupakan basis utama mata pencaharian warga nahdliyyin. Kegiatan itu menjadi forum bagi para petani Nahdliyin untuk merumuskan penguatan ekosistem ekonomi pertanian dari sektor hulu hingga hilir.
“Produksi Gabah Kering Giling (GKG) Kabupaten Blora pada tahun 2025 mencapai 530.818 ton, meningkat 106.407 ton atau 25.07 persen, dibandingkan tahun 2024 yang sebesar 424.411 ton,” ujar Bupati Blora, melalui keterangan pers, Selasa, 11 Agustus 2026.
Peningkatan produksi tersebut, kata dia, didukung oleh naiknya produktivitas (provitas) menjadi 50.98 kuintal per hektar, atau meningkat 0,96 kuintal per hektar atau 1.92 persen dibandingkan tahun 2024.
Sejalan dengan peningkatan produksi gabah, Bupati Arief mengungkap produksi beras Kabupaten Blora pada tahun 2025 juga mengalami peningkatan signifikan menjadi sekitar 305.252 ton.
“Jumlah tersebut naik 61.190 ton atau 25,07 persen, dibandingkan produksi beras tahun 2024 yang mencapai sekitar 244.062 ton,” imbuhnya.
Dengan proyeksi saat ini, ia pun mendorong setiap desa di Kabupaten Blora menyediakan lahan bengkok minimal satu hektar sebagai lokasi uji coba pertanian organik.
Bahkan Pemkab Blora akan berupaya melakukan penjajakan kerja sama dengan BUMN, seperti Pertamina, untuk mendukung pendampingan dan pembinaan petani yang mengembangkan pertanian organik.
“Jika satu desa bisa menyediakan 1 hektar tentunya di blora ini ada 295 desa/Kelurahan yang bisa ada juga 295 hektar pertanian organik,” tambahnya.
Menurutnya pertanian organik merupakan solusi masa depan yang tidak hanya menjaga kesehatan konsumen, tetapi juga memperbaiki kualitas tanah dan mengurangi ketergantungan terhadap bahan kimia berbahaya.
“Kami ingin Blora menjadi salah satu sentra pertanian organik di Jawa Tengah,” harapnya.
Ia berharap, LPPNU terus bergerak ke arah pertanian organik di setiap desa. Sehingga Kabupaten Blora menjadi kabupaten percontohan di bidang pertanian organik.
“Kedepan, kami berharap kader NU sebagai petani binaan dapat menjadi bagian penting dalam menggerakkan pertanian organik di Kabupaten Blora. Tidak hanya sebagai penerima manfaat, tetapi juga sebagai pelopor, penggerak, dan teladan bagi masyarakat dalam menerapkan pertanian yang ramah lingkungan dan berkelanjutan,” terangnya.
Jurnalis: *Red
Editor: Tia















