BLORA, Beritajateng.id – Penanganan tanah longsor di bantaran Sungai Lusi masuk dalam skala prioritas Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana. Hal ini diungkal oleh Kepala Bidang Sumber Daya Air DPUPR Blora, Surat.
Surat menjelaskan, longsor di Sungai Lusi, tepatnya di Kelurahan Mlangsen, Kecamatan Blora, telah merusak satu rumah warga pada 2022 lalu. Saat ini kejadian longsor tersebut masih terjadi terutama jika hujan turun dengan intensitas tinggi.
“Penanganan akan dilakukan secara bertahap berdasarkan skala prioritas dan menyesuaikan dengan ketersediaan anggaran dari BBWS Pemali Juana. BBWS tidak hanya berfokus pada satu lokasi, tetapi juga menangani longsor, banjir, dan bencana lainnya,” ujarnya.
Ia berharap anggaran untuk penanganan longsor di Mlangsen dapat dilakukan melalui anggaran rutin Sungai Lusi.
“Kami akan melaksanakan koordinasi dengan BBWS Pemali Juana agar dapat dialokasikan usulan penanganan. Dengan demikian, penanganan longsoran dapat diusulkan melalui kegiatan yang bersifat permanen dan berkelanjutan,” katanya.
Sementara itu, Lurah Mlangsen, Evi Kartikasari, menjelaskan tanah longsor yang terjadi di Jalan Mangga, RT.09/RW.02, sudah terjadi sejak ia menjabat pada tahun 2023.
“Longsor di Jalan mangga bertambah lagi. Karena musim penghujan ini,” ujar Evi.
Ia mengaku telah berupaya meminta bantuan untuk menangani insiden longsor tersebut. Namun hingga saat ini belum ada langkah perbaikan dari pihak-pihak terkait.
“Terakhir pembaharuan permohonan itu pada 09 Desember 2025. Kita tujukan ke BPBD dan tembusan ke DPUPR Blora,” kata Evi.
Salah satu warga di Kelurahan Mlangsen, Kecamatan Blora, Suparlan, yang rumahnya dekat dengan lokasi tanah longsor masih memilih tetap bertahan. Ia mengatakan insiden longsor telah terjadi pada 2022 lalu.
Satu rumah di sampingnya bahkan telah hilang dan menyisakan pondasi akibat longsor yang terjadi tiga tahun lalu itu. Ia menuturkan tanah longsor terjadi bertahap selama satu minggu, hingga satu rumah hilang.
Menurut Suparlan insiden itu dipicu oleh pohon bambu yang terbawa arus sungai. Sehingga menarik paksa rumah yang berdekatan dari gerombolan bambu.
“Sejak tahun 2022, tiba-tiba tanahnya longsor. Itu kan bambunya (dulu) longsor pinggir sungai, tiba-tiba rumahnya ikut jalan (longsor),” kata Suparlan, Senin, 19 Januari 2026.
Upaya bertahan di rumah yang rawan longsor itu ia lakukan karena itu menjadi satu-satunya aset yang dimiliki. Sebagai antisipasi, Suparlan memasang bambu untuk menopang dan mempertahankan keseimbangan rumahnya.
“Untuk mempertahankan rumah saya, saya kasih bambu, udah satu tahun ini. Sering ganti bambu,” terangnya.
Ia berharap pohon bambu yang berada di belakang rumahnya tidak ikut longsor. Sehingga rumahnya tetap dapat bertahan dan menjadi tempat tinggalnya bersama keluarga.
“Jaraknya (rumah) kira-kira ini sekitar 70 meter. Ini hanya berharap, agar bambu dibelakang ini tidak ikut longsor,” harapnya.
Berdasarkan pantauan di lokasi, upaya penahanan tanah sudah pernah dilakukan dengan cara pemasangan turap penahan tanah. Pasalnya, dilokasi tersebut banyak tertancap kayu-kayu glugu (pohon kelapa).
Namun upaya tersebut masih belum efektif, karena longsor tetap mengikis tanah dan mengancam satu rumah lainya, yang berdekatan dengan lokasi tersebut.
Jurnalis: *Red
Editor: Tia















