BLORA, Beritajateng.id – Proyek pembangunan tiga embung dengan rencana anggaran sebesar Rp9 miliar tak jadi direalisasikan tahun ini untuk Kabupaten Blora. Padahal ketiga embung itu diproyeksikan mendukung pengairan di 191 hektar lahan pertanian.
Kabid Sumber Daya Air (SDA) DPUPR Blora, Surat, menuturkan ketiga embung itu rencananya dibangun di Desa Temulus dan Wulung, Kecamatan Randublatung dan Desa Adirejo, Kecamatan Tunjungan.
Adapun Embung Temulus diproyeksikan mampu mengairi sekitar 140 hektar sawah. Sementara Embung Wulung mencakup 31 hektar dan Embung Adirejo sekitar 20 hektar lahan pertanian.
Ketiga proyek itu mendapat pendanaan dari Bantuan Keuangan Pemerintah Provinsi (Bankeuprov) Jateng. Namun, pihaknya mendapat informasi bahwa proyek yang diusulkan sejak awal tahun itu terkena efisiensi anggaran sehingga batal direalisasikan.
“Kami mendapatkan informasi surat dari Pak Sekda Provinsi Jawa Tengah, anggaran untuk ketiga embung itu kena efisiensi atau refocusing untuk membiayai infrastruktur lainnya,” kata Surat, Senin, 12 Oktober 2026.
Surat menyebut Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Blora akan kembali mengupayakan bantuan anggaran untuk rehabilitasi embung tersebut pada 2027 hingga 2028 secara bertahap.
“Karena tahun ini memang usulan kami tidak mendapatkan alokasi anggaran, untuk 2027 secara bertahap sampai nanti 2028 dan selanjutnya akan kami upayakan mendapatkan bantuan tersebut,” jelasnya.
Menurut Surat, keberadaan tampungan air sangat penting untuk membantu mengantisipasi kekeringan yang kerap melanda Blora. Air hujan yang tertampung saat musim penghujan diharapkan dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan air saat musim kemarau.
“Dengan banyaknya tampungan air, harapan kami bisa membantu menahan air di musim hujan. Kemudian dapat kita optimalkan di musim kemarau untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di bidang pertanian, air baku, dan juga air bersih,” ujarnya.
Surat menjelaskan, saat ini Blora memiliki tiga waduk yang beroperasi, yakni Waduk Randugunting, Waduk Greneng, dan Waduk Tempuran. Selain itu, terdapat 78 embung yang tersebar di wilayah kabupaten tersebut.
Namun, sebagian besar embung mengalami kekeringan selama kemarau tahun ini. Bahkan, sejumlah tampungan air telah berada pada level tampungan mati sehingga tidak dapat dimanfaatkan secara optimal.
“Di posisi kritis, posisi tanggap darurat sebenarnya, embung bisa dimanfaatkan oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhan air irigasi bagi pertanian maupun air baku untuk masyarakat,” terangnya.
Kendati demikian, pemanfaatan air dari tampungan yang tersisa perlu memperhatikan kapasitas efektif embung dan kondisi infrastrukturnya. Surat menyebut sejumlah embung maupun waduk membutuhkan pemeliharaan serta penguatan konstruksi agar dapat berfungsi optimal.
Ke depan, DPUPR Blora berharap datangnya musim hujan dapat dimanfaatkan untuk memaksimalkan tampungan air. Berdasarkan prediksi BMKG yang disampaikan dalam wawancara, musim hujan diperkirakan mulai pada awal November.
Pihaknya berharap air yang tertampung nantinya dapat disalurkan untuk kebutuhan irigasi pertanian, air baku masyarakat, sekaligus membantu mitigasi dan pengendalian banjir.
“Kami prioritaskan supaya nanti bisa mengoptimalkan pemenuhan kebutuhan masyarakat. Tampungan-tampungan embung, bendung maupun waduk bisa menampung limpasan air hujan secara maksimal,” katanya.
Jurnalis: Eko Wicaksono
Editor: Utia Lil















