DEMAK, Beritajateng.id – Banjir yang meremdam rumah warga di Desa Wonorejo, Kecamatan Karanganyar, disebut diakibatkan oleh curah hujan tinggi dan sifon atau saluran perpipaan yang kurang optimal.
Kepala Desa Wonorejo, Ahmad Rozikin mengatakan, aliran air di sepanjang sungai di wilayah tersebut tidak bisa mengalir dan tersendat karena siphon di Kecamatan Gajah tidak berfungsi maksimal, sehingga air melimpas ke jalan dan permukiman warga.
“Penyebabnya akibat curah hujan tinggi, sifon kurang lancar, baik yang berada di wilayah Gajah maupun sifon yang mengarah ke Kedungwaru Kidul atau Kali Kenceng,” ujarnya, Rabu, 14 Januari 2026.
Ia mengatakan banjir di wilayah Dukuh Kedung Banteng dan Desa Wonorejo mulai terjadi sejak Jumat, 9 Januari 2026. Banjir bahkan menggenangi hampir seluruh wilayah Desa Wonorejo, termasuk di Dukuh Kedung Banteng.
“Semua warga terdampak, ada sekitar 1923 KK disini terdampak. Ketinggian genangan bervariasi, kalau di dalam rumah 10-30 cm,” katanya.
Pemerintah desa telah berupaya melakukan penanganan dengan berkoordinasi bersama instansi terkait. Rozikin menyebut pihaknya telah meminta bantuan kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Demak serta pemerintah provinsi.
“Alhamdulillah ini sudah diterjunkan pompa air dan sudah berjalan sekitar tiga hari ini,” katanya.
Sementara untuk di wilayah Dukuh Kedung Banteng, ia menuturkan genangan banjir terus bertambah seiring dengan tingginya intensitas hujan di wilayah tersebut. Berdasarkan pantauan di lapangan, ketinggian banjir di titik terdalam mencapai 70 cm.
Meski hampir seluruh warga terdampak, kata dia, namun hingga saat ini belum ada laporan warga yang mengungsi.
“Ada beberapa warga yang mengungsi secara mandiri ke rumah saudara yang tempatnya lebih tinggi, tapi sebagian besar masih bertahan di rumah masing-masing,” jelasnya.
Hal yang sama diungkap Mashudi, warga Dukuh Kedung Banteng. Ia mengatakan ketinggian banjir terus bertambah karena hujan terus mengguyur wilayah tersebut tanpa henti.
Selain curah hujan tinggi, Mashudi juga menyebut banjir tersebut disebabkan oleh sifon yang tidak berfungsi maksimal.
“Air dari sungai depan itu kalau hujan airnya mengalir ke timur, harusnya mengalir ke barat. Kalau menurut saya itu karena sifon di Gajah kurang optimal. Harus dibenahi itu siphonnya,” jelasnya.
Warga setempat dan pemerintah desa berharap penanganan pompanisasi dan perbaikan sistem aliran air dapat segera dilakukan untuk mengatasi banjir di wilayah tersebut. Langkah tersebut dinilai menjadi solusi jangka panjang agar kejadian serupa tidak terulang di kemudian hari.
Jurnalis: *Red
Editor: Tia















