GROBOGAN, Beritajateng.id – Para petani di wilayah Kabupaten Grobogan mengaku hasil panen selama musim kemarau mengalami penurunan. Hal ini disebabkan oleh sumber air yang mulai mengering akibat kemarau berkepanjangan.
Kondisi ini juga semakin parah karena pakan ternak sulit didapatkan selama kemarau. Sehingga sejumlah petani yang sekaligus peternak terpaksa menjual ternak sapi.
“Hasil panen berkurang. Kalau biasanya saat musim hujan bisa sampai lima kuintal, tapi pas musim kemarau begini paling tiga kuintal,” ujar salah seorang petani asal Desa Asamrudung, Listiawaty, Selasa, 18 Agustus 2026.
Saat musim kemarau, menurutnya banyak lahan yang tidak lagi ditanami. Para petani memilih mengolah atau mencangkul tanah sebagai persiapan menghadapi musim penghujan.
Menurutnya kondisi ini diperparah dengan sulitnya mendapatkan pakan ternak berupa rumput untuk sapi selama musim kemarau. Sehingga ia terpaksa menjual ternak yang dimiliki.
“Sekarang tinggal satu sapi. Kemarin ada dua, satu dijual karena musim kemarau susah pakan,” katanya.
Hal serupa dialami Sudarti (47), petani yang menggarap lahan seluas sekitar setengah hektar. Ia mengaku kekeringan telah berlangsung sekitar dua bulan dan berdampak langsung terhadap hasil panennya.
Jika biasanya dari lahan tersebut ia mampu mendapatkan sekitar empat kuintal hasil panen, kali ini hasil yang diperoleh hanya sekitar satu setengah kuintal.
“Biasanya dapat empat kuintal, kalau ini cuma satu setengah kuintal,” ujar Sudarti.
Kekeringan juga membuat intensitas masa tanam dan panen menurun. Dalam kondisi normal, Sudarti mengaku dapat melakukan panen hingga tiga kali dalam setahun. Namun tahun ini, akibat keterbatasan air, lahan hanya bisa ditanami dua kali.
“Saat musim hujan atau labo, petani biasanya menanam padi. Namun ketika kemarau tiba dan ketersediaan air semakin terbatas, sebagian petani memilih menanam jagung atau bahkan membiarkan lahannya tidak ditanami,” katanya.
Sudarti mengatakan lahan pertanian di wilayahnya tidak memiliki sumber air yang dapat diandalkan selama musim kemarau. Air hanya tersedia ketika musim hujan tiba, sementara memasuki musim kemarau ketiga, kondisi lahan semakin kering.
“Sumurnya tidak ada sumbernya. Kalau ada airnya ya pas musim hujan. Kalau musim ketiga sudah tidak ada sumber air,” katanya.
Jurnalis: *Red
Editor: Tia















