GROBOGAN, Beritajateng.id – Longsoran tanggul Sungai Lusi yang berdampak pada Makam Kuripan Timur akan diperbaiki secara permanen pada awal 2026. Hal ini diungkap Lurah Kuripan, Faiq Najib Hasan.
Faiq mengatakan, perbaikan itu akan dilakukan oleh Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana. Ia mengungkap sebelumnya tanggul yang rusak tersebut telah mendapatkan penanganan sementara.
“Laporan awal retakan tanggul terjadi pada Kamis, 25 September 2025. Kami langsung bersurat ke BBWS Pemali Juana pada Jumat, 26 September 2025 dan langsung ditangani pada hari yang sama,” ujar Faiq, Jumat, 26 Desember 2025.
Ia menjelaskan, penanganan darurat saat itu dilakukan dengan pemasangan pancang bambu, geotekstil, dan geobag. Pekerjaan tersebut rampung pada Selasa, 14 Oktober 2025.
Namun, curah hujan yang kembali tinggi menyebabkan debit Sungai Lusi meningkat dan mengikis tanggul, sehingga retakan semakin melebar dan longsoran bertambah parah.
“Beberapa hari setelah pekerjaan selesai, retakan kembali muncul. Kami sudah melaporkan kondisi ini dan BBWS juga telah beberapa kali melakukan survei ke lokasi,” jelasnya.
Akibat longsoran tersebut, tanggul dan badan jalan yang terdampak mencapai panjang sekitar 100 meter. Dari lebar jalan semula sekitar lima meter, kini hanya tersisa kurang lebih setengah meter. Kondisi ini tidak hanya mengganggu aktivitas warga, tetapi juga meningkatkan risiko keselamatan.
Sebagai bentuk ikhtiar sekaligus pelestarian budaya lokal, Faiq menuturkan warga setempat bahkan menggelar selamatan pada Sabtu, 20 Desember 2025 lalu. Kegiatan tersebut diikuti tokoh agama dan tokoh masyarakat setempat, sebagai doa bersama agar wilayah mereka terhindar dari bencana.
“Kami berharap perbaikan nanti bisa berjalan aman, hasilnya baik dan berkelanjutan, serta benar-benar memberikan rasa aman bagi masyarakat,” kata Faiq.
Sementara itu, Ketua RT 02 RW 07 Kelurahan Kuripan, Priyono, mengatakan longsoran tanggul Sungai Lusi juga mengancam bangunan rumah warga yang berada tepat di bibir sungai.
“Kalau sudah masuk puncak musim hujan, kami khawatir air melimpas dan masuk ke rumah warga. Posisi rumah sangat dekat dengan lokasi longsoran,” ujarnya.
Priyono menambahkan, longsor di kawasan tersebut bukan kali pertama terjadi. Dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir, tanggul Sungai Lusi di wilayah RT 01–02 RW 07 tercatat sudah mengalami longsor sebanyak tiga kali.
Ia berharap rencana perbaikan permanen oleh BBWS Pemali Juana dapat segera direalisasikan pada awal tahun depan, sehingga ancaman longsor di sepanjang Sungai Lusi tidak terus berulang setiap musim hujan.
Jurnalis: *Red
Editor: Tia















