GROBOGAN, Beritajateng.id – Kondisi tanggul Sungai Lusi di Kelurahan Kuripan, Kecamatan Purwodadi yang kembali longsor membuat warga khawatir terhadap potensi banjir dan longsor di musim penghujan.
Warga setempat, Yati, yang rumahnya tak jauh dari lokasi longsoran berharap agar Pemerintah Kabupaten Grobogan segera melakukan perbaikan.
“Kami takut kalau longsoran itu meluas dan menimpa rumah warga. Semoga bisa segera diperbaiki,” ujarnya, Rabu, 13 November 2025.
Sementara itu, Ketua RT 01 RW 07 Kelurahan Kuripan, Heri, mengungkapkan bahwa longsoran kali ini terjadi hanya dua pekan setelah perbaikan terakhir yang dilakukan oleh BBWS.
“Dulu sudah pernah diperbaiki BBWS, tapi belum genap satu bulan tanggul sudah longsor lagi. Padahal sudah dipasangi trucuk bambu, karung pasir, dan geotekstil,” ujarnya.
Ia menuturkan, setiap kali debit Sungai Lusi meningkat, air kerap melimpas ke tanggul dan mengikis bagian tepi sungai, terutama di sisi selatan atau kiri sungai dari arah timur.
Heri juga menduga saluran pembuangan air di belakang rumah warga memperparah kondisi tanggul sebelum akhirnya ditutup oleh BBWS.
Disisi lain, Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Grobogan, Wahju Tri Darmawanto mengatakan, hasil assessment pada 26 September 2025 menunjukkan bahwa struktur beton tanggul telah bergeser dan muncul retakan memanjang di badan tanggul.
Adapun kerusakan tanggul itu, kata dia, mencapai panjang sekitar 57 meter dengan lebar 4 meter. Kondisi tersebut membuat badan jalan di atas tanggul berpotensi ambles sewaktu-waktu.
“Vegetasi di sekitar lokasi tidak mampu menahan pergerakan tanah. Potensi longsor susulan cukup tinggi, terutama saat curah hujan meningkat atau debit Sungai Lusi naik,” ujar Wahju.
Pihaknya telah merekomendasikan langkah penanganan darurat dan permanen. Untuk penanganan darurat, ia menyarankan pemasangan rambu peringatan, pembatasan aktivitas warga di lokasi, dan penumpukan karung pasir di titik-titik kritis.
Sedangkan untuk penanganan permanen, BPBD mengusulkan perkuatan tanggul menggunakan gabion atau batu kali, pengurugan berlapis dengan geotekstil, pemasangan saluran drainase, serta revegetasi di sekitar lokasi.
“Surat permohonan penanganan sudah kami kirimkan ke BBWS Pemali Juana sejak akhir September. Kami berharap segera ada tindak lanjut agar kerusakan tidak semakin meluas,” tegasnya.
Jurnalis: *Red
Editor: Tia















