JEPARA, Beritajateng.id – Di tengah popularitas Jepara sebagai kota ukir, Desa Troso di Kecamatan Pecangaan justru dikenal sebagai sentra tenun yang namanya kian mendunia. Tenun Ikat Troso merupakan kain khas yang menjadi salah satu ikon tekstil Jawa Tengah.
Sebanyak kurang lebih 5.000 penenun masih aktif melakukan kegiatan tenun di desa tersebut. Selain itu, tercatat ada sekitar 3.000 unit Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) yang aktif dipakai memproduksi kain setiap hari.
Sekretaris Desa Troso sekaligus Ketua Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) Tenun Troso, Abdul Jamal, menyebut distribusi tenun Troso menjangkau berbagai kota besar di Indonesia.
“Ke Bali saja, tiap minggu bisa sampai lima ratus juta rupiah,” katanya, Jumat, 13 Februari 2026.
Ia menjelaskan proses pembuatan Tenun Troso melalui tahapan yang tidak singkat, mulai dari pemintalan benang, pembuatan gambar sesuai motif, pengikatan, kemudian pewarnaan dan penjemuran hingga kering. Setelah itu, benang disusun dan ditenun menggunakan ATBM secara manual.
“Proses tradisional ini menjadi kekuatan utama yang menjaga kualitas dan ciri khas produk. Keunikan Tenun Troso juga terletak pada motifnya. Empat dukuh di desa (yakni, red) Kedawung, Ampel, Belik, dan Sicengkir, menjadi sumber inspirasi (motif, red),” terangnya.
Selain itu, ia mengatakan motif bambu, sawah, masjid tua, sungai, teratai hingga bebatuan alam turut diterjemahkan dalam pola kain yang khas.
“Motif asli memang tidak ada peninggalan khusus. Tim mempelajari wilayah desa dan mengembangkannya menjadi ciri khas,” jelas Jamal.
Langkah strategis dilakukan saat Tenun Troso memperoleh sertifikat Indikasi Geografis (IG). Menurutnya sertifikasi ini penting agar nama Tenun Troso Jepara tidak bisa digunakan secara sembarangan oleh daerah lain.
“Perlindungan IG memastikan setiap produk yang menggunakan nama Troso harus memenuhi standar tertentu, baik dari sisi proses, motif, hingga kualitas akhir,” ujarnya.
Jurnalis: *Red
Editor: Tia















