JEPARA, Beritajateng.id – Menteri Kebudayaan Republik Indonesia (Menbud RI) Fadli Zon memberikan apresiasi dan dukungan atas rencana Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara untuk mengembangkan merchandise Museum RA Kartini.
Hal itu ia sampaikan usai meresmikan revitalisasi Museum RA Kartini pada Senin, 17 November 2025. Menurutnya museum tersebut berpotensi sebagai pusat ekonomi yang mampu memperkuat sektor kreatif dan pariwisata di Jepara.
Dalam sambutannya, Fadli Zon menegaskan bahwa museum tidak lagi sekadar ruang penyimpanan koleksi sejarah, tetapi harus menjadi ekosistem hidup yang menghasilkan aktivitas ekonomi kreatif.
“Museum Kartini ini harus menjadi motor ekonomi budaya. Salah satunya adalah pengembangan merchandise,” katanya.
Ia mengatakan merchandise museum mampu menyumbang hingga 50 persen pendapatan institusi. Model ini disebutnya relevan untuk diterapkan di Jepara, terutama karena karakter daerah yang kaya seni ukir, kriya, hingga busana tradisional.
Menurutnya pendekatan ekonomi budaya lewat merchandise ini bukan sekadar menjual produk, tetapi melahirkan karya yang memiliki nilai sejarah dan artistik khas Jepara. Karena itu, ia mengingatkan bahwa merchandise yang dijual Museum Kartini harus unik, berkualitas, dan mencerminkan identitas daerah.
“Jepara ini kota yang spesial. Seni ukirnya terkenal, tradisi budayanya kuat, dan figur Kartini adalah ikon nasional. Semua itu bisa diterjemahkan menjadi produk-produk kreatif yang bernilai tinggi,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa integrasi seni dan budaya ke dalam merchandise dapat menjadi daya tarik tambahan bagi wisatawan. Produk kreatif yang dikurasi dengan baik diyakini mampu memancing kunjungan dari berbagai daerah bahkan mancanegara.
“Wisatawan sekarang mencari pengalaman. Mereka ingin pulang membawa sesuatu yang otentik. Merchandise berbasis seni dan budaya Jepara bisa menjadi magnet yang kuat,” tegasnya.
Selain merchandise, Fadli Zon mendorong agar Museum Kartini mengembangkan program edukasi, pameran tematik, festival budaya, hingga kolaborasi dengan seniman lokal dan pelaku UMKM. Menurutnya, museum harus menjadi ruang interaksi sosial yang hidup, bukan hanya tempat melihat benda-benda sejarah.
Pihaknya siap mendukung Jepara melalui berbagai skema program kebudayaan, termasuk fasilitasi kreatif, peningkatan kapasitas pelaku budaya, hingga promosi pariwisata.
Ia berharap langkah ini menjadi titik awal kebangkitan ekosistem budaya Jepara yang lebih modern namun tetap berakar pada warisan sejarah Kartini.
“Jepara punya modal besar. Tinggal bagaimana kita kelola dengan strategi yang tepat. Museum Kartini harus menjadi episentrum gerak ekonomi budaya,” pungkasnya.
Jurnalis: *Red
Editor: Tia















