JEPARA, Beritajateng.id – Kerusakan infrastruktur di Kabupaten Jepara akibat bencana banjir dan tanah longsor sementara ini diperkirakan mencapai Rp11,12 miliar. Kerusakan tersebut meliputi jalan, jembatan, hingga jaringan sumber daya air.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Jepara, Hery Yulianto, menyebut kerusakan paling signifikan terjadi pada infrastruktur sumber daya air.
“Yang terdampak meliputi jembatan, jalan, bendung, tanggul, dan saluran air. Ini baru infrastruktur, belum sektor pertanian dan lainnya,” katanya, Jumat, 23 Januari 2026.
Hery merincikan, total sementara kerugian akibat jembatan rusak mencapai Rp3,15 miliar. Sementara jalan di Desa Tempur mengalami kerusakan dengan estimasi Rp520 juta, ditambah bahu jalan senilai Rp250 juta.
“Sektor sumber daya air menjadi penyumbang kerugian terbesar, dengan total mencapai Rp7,2 miliar akibat rusaknya bendung, tanggul, dan saluran pasca banjir dan longsor,” ujarnya.
Besarnya nilai kerusakan tersebut, kata dia, tidak sebanding dengan kemampuan fiskal daerah. Dari APBD Jepara, dana yang dapat segera dimanfaatkan dalam kondisi darurat hanya berasal dari Belanja Tak Terduga (BTT) sebesar Rp5 miliar.
“Hingga kini, BPBD Jepara baru menggunakan sekitar Rp400 juta, yang dialokasikan untuk penanganan darurat, termasuk penyediaan dapur umum dan logistik bagi warga terdampak,” terangnya.
Hery menjelaskan BTT hanya dapat digunakan pada tahap tanggap darurat dan masa transisi pemulihan. Adapun proses rehabilitasi dan rekonstruksi infrastruktur memerlukan dukungan anggaran yang lebih besar.
“Sekarang masih tahap pengajuan. Ke depan penanganan akan melibatkan pemerintah provinsi dan pemerintah pusat,” pungkasnya.
Jurnalis: *Red
Editor: Tia















