KENDAL, Beritajateng.id – Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kendal berkomitmen menggunakan produk pangan lokal dalam program makan bergizi gratis (MBG), khususnya telur ayam dari peternak.
Komitmen ini disampaikan Ketua Paguyuban Kendal, Sugiono, usai berkoordinasi dengan peternak yang tergabung dalam Koperasi Peternak Unggas Sejahtera (KPUS) Kendal, Sabtu 1 Agustus 2026.
“Atas nama paguyuban, saya akan menyampaikan kepada teman-teman bahwa MBG di Kendal harus mengambil produk lokal. Baik telur, daging ayam, lele, bandeng, beras, dan kebutuhan lainnya. Harus mengambil produk lokal,” tegas Sugiono yang juga mantan Sekda Kendal tersebut.
Ia membenarkan, hingga kini masih terdapat beberapa SPPG yang menggandeng mitra dari luar daerah untuk memenuhi kebutuhan bahan pangan program MBG. Kondisi itu akan segera dievaluasi agar pasokan diprioritaskan dari pelaku usaha di Kabupaten Kendal.
“Saat ini masih kami inventarisasi. Misalnya telur yang selama ini didatangkan dari luar kota akan kami arahkan agar dibeli dari peternak Kendal. Kalaupun ada mitra dari luar Kendal, mereka tetap harus berbelanja dari warga Kendal,” ujarnya.
Terkait harga, Sugiono menegaskan tidak ada ketentuan khusus dan seluruh transaksi tetap mengacu pada harga pasar.
“Kalau semua kebutuhan menu MBG menggunakan produk lokal, InsyaAllah perputaran ekonomi di Kendal akan semakin baik. Dampaknya juga akan dirasakan langsung oleh para peternak dan pelaku usaha lokal,” terang Sugiono.
Sementara itu, Kepala KPUS Jawa Tengah, Suwardi, mengapresiasi langkah Paguyuban SPPG Kendal yang siap membuka kerja sama pemanfaatan telur dari peternak lokal.
“Pertemuan ini membahas akselerasi kerja sama. Nantinya beliau akan bekerja sama memanfaatkan produk telur dari peternak lokal yang ada di Kendal. Kami mengucapkan terima kasih kepada Paguyuban SPPG Kendal atas komitmen tersebut,” ungkap Suwardi.
Dalam kesempatan itu, KPUS juga berkoordinasi mengenai pelaksanaan aksi damai yang akan digelar pada 10 Agustus 2026 di Alun-alun Kendal. Aksi tersebut direncanakan dengan membagikan sebanyak 50 ribu ekor ayam hidup kepada masyarakat sebagai bentuk protes atas kondisi usaha peternakan yang semakin berat.
“Kami akan membagikan 50 ribu ekor ayam hidup sebagai bentuk keprihatinan karena harga pakan terus naik, sementara harga jual hasil ternak belum membaik,” jelasnya.
Melalui aksi tersebut, para peternak berharap pemerintah dapat memperluas pemanfaatan telur dalam berbagai program bantuan pangan. Dengan demikian, stok telur yang saat ini menumpuk di tingkat peternak dapat terserap pasar dengan harga yang layak sehingga keberlangsungan usaha peternak tetap terjaga.
“Aksi ini adalah bentuk keprihatinan kami para peternak untuk menyampaikan sejumlah tuntutan kepada pemerintah agar seluruh bantuan pangan pemerintah bisa menggunakan telur. Sehingga telur yang menumpuk pada peternak akan busa terurai dan diserap sesuai harga yang ada,” pungkasnya.
Jurnalis: *Red
Editor: Tia















