SEMARANG, Beritajateng.id – Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang memberikan insentif sebesar Rp1 juta bagi pria yang berminat menjalani vasektomi.
Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Disdalduk KB) Kota Semarang, Lilik Farida mengatakan, insentif itu diberikan dalam rangka meningkatkan partisipasi laki-laki di program KB.
Lilik menjelaskan capaian KB Pria mengalami peningkatan yang signifikan. Jumlah peserta vasektomi pada 2024 hanya 46 orang. Sementara tahun ini jumlahnya sudah mencapai 100 orang lebih.
“Masyarakat, terutama yang pria, mulai melirik vasektomi. Tapi mereka merasa lebih nyaman jika tindakan KB berlangsung di rumah sakit oleh tenaga ahli. Karena itu kami menggandeng dokter spesialis untuk memberikan pelayanan terbaik,” ujarnya, Kamis, 13 November 2025.
Menurutnya pemberian insentif Rp1 juta ini membuat program vasektomi memiliki daya tarik. Program ini berlaku bagi pria yang telah memiliki minimal dua anak, dengan anak bungsu berusia lima tahun ke atas.
“Rata-rata peserta KB pria yang menjalani vasektomi itu sekitar usia 33 tahun dengan syarat minimal memiliki dua anak dan anak bungsu berusia lima tahun. Namun jika terdapat kondisi medis tertentu pada istri, tindakan vasektomi dapat dilakukan lebih awal,” katanya.
Perubahan perilaku generasi muda, kata dia, turut mendorong peningkatan capaian KB. Tren pernikahan usia dini di bawah 19 tahun juga menurun karena banyak anak muda lebih mementingkan pendidikan, pekerjaan, dan perencanaan masa depan sebelum berumah tangga.
Ia mengungkap, saat ini capaian program KB di Kota Semarang terus meningkatkan. Data tahun ini menunjukan pertumbuhan telah mencapai 77 persen dengan peningkatan signifikan pada metode kontrasepsi jangka panjang.
“Fokus kami saat ini adalah meningkatkan capaian KB pasca salin, karena langkah ini dapat menurunkan risiko stunting yang pada akhirnya berkorelasi dengan penurunan angka stunting itu sendiri,” katanya.
Sementara itu, Anggota Komisi D DPRD Kota Semarang Arya Setya Novanto menilai, program pemberian insentif Rp1 juta bagi peserta vasektomi merupakan langkah baik dalam mendorong kesetaraan gender di bidang KB.
Namun, ia mengingatkan agar pelaksanaannya tetap sesuai prosedur dan menyasar kelompok yang benar-benar memenuhi syarat.
Menurut Arya, keterlibatan pria dalam program KB merupakan bentuk tanggung jawab bersama untuk mengendalikan laju pertumbuhan penduduk.
“Program ini bagus karena tidak hanya perempuan yang dibebani urusan KB, tapi juga laki-laki bisa ikut berperan. Hanya saja, pelaksanaannya harus tetap sesuai ketentuan,” ujarnya.
Ia menegaskan, sebelum tindakan vasektomi dilakukan, masyarakat perlu mendapat sosialisasi menyeluruh agar memahami manfaat dan resikonya.
“Jangan sampai orang hanya tahu dapat Rp1 juta, lalu langsung ikut vasektomi tanpa tahu syarat atau kondisi kesehatannya. Harus ada seleksi yang jelas,” tegasnya.
Arya juga meminta agar Disdalduk KB memastikan program ini tepat sasaran. Menurutnya, peserta vasektomi idealnya adalah pria yang sudah memiliki minimal dua anak dan tidak lagi berada pada usia produktif.
“Jangan sampai semua disamaratakan. Kalau masih usia produktif tapi sudah diajak vasektomi, itu perlu dievaluasi,” katanya.
Terkait efektivitas penggunaan anggaran, Arya mengaku DPRD belum menerima laporan evaluasi dari Disdalduk KB. Ia berencana menindaklanjuti hal ini dalam rapat kerja daerah (RKPD) mendatang.
“Kami akan tanyakan sejauh mana penyerapan anggaran dan dampak program vasektomi ini terhadap masyarakat,” jelasnya.
Meski begitu, Arya menilai insentif Rp1 juta masih tergolong wajar sebagai bentuk dorongan bagi masyarakat.
“Menurut saya, nilainya cukup. Ini kan hanya stimulus agar bapak-bapak lebih terbuka ikut KB. Banyak yang masih salah paham, mengira vasektomi bisa mengurangi kejantanan. Padahal tidak begitu,” ujarnya.
Jurnalis: *Red
Editor: Tia















