KUDUS, Beritajateng.id – Penyaluran program makan bergizi gratis (MBG) di Kabupaten Kudus untuk kelompok rentan 3B yakni ibu hamil, ibu menyusui, dan balita, dinilai belum optimal. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus, baru ada 4.000 dari 51.000 orang kelompok rentan yang menerima manfaat program ini.
“Saat ini penyaluran MBG untuk kalangan ibu hamil, ibu menyusui dan balita di Kabupaten Kudus baru menyasar sekitar 4.000 penerima manfaat di Kabupaten Kudus. Padahal jumlahnya ada sekitar 51.000, jadi masih kecil sekali capaiannya,” kata Sekretaris DKK Kudus, Nuryanto.
Ia mengatakan, DKK Kudus sudah melakukan koordinasi dengan pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di wilayah setempat berkaitan mengenai rendahnya cakupan penerima MBG dari kalangan 3B. Mengingat, program MBG di Kabupaten Kudus saat ini masih terfokus pada kalangan anak yang duduk di bangku sekolah.
Namun hasil dari koordinasi itu, kata Nuryanto, belum ada jawaban yang memuaskan karena seluruh SPPG tidak bisa memberikan penjelasan terkait penyaluran MBG ke kelompok 3B.
“Kami kemarin minta SPPG untuk rapat koordinasi, kami menekankan agar 3B ini juga bisa menjadi prioritas penerima MBG,” ujarnya.
Nuryanto menyebut, saat ini ada sebanyak 101 SPPG yang terbangun di Kabupaten Kudus dan telah mengikuti pelatihan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS). Namun, baru ada 85 SPPG yang beroperasi aktif.
Ia pun berharap, kalangan 3B dapat menjadi perhatian khusus sebagai penerima manfaat dari program MBG. Menurutnya, kalangan inilah yang sebenarnya membutuhkan pengawalan terhadap asupan gizi dalam sehari-hari.
“Saya juga tidak mendapat jawaban mengapa masih sangat kecil penerima manfaat dari kalangan ibu hamil, ibu menyusui dan balita yang mendapat manfaat dari MBG, padahal mereka juga penting, harapannya agar mereka bisa jadi prioritas,” tandasnya.
DKK Kudus juga membuka pintu selebar-lebarnya bagi SPPG atau dapur penyedia MBG yang ingin berkonsultasi terkait pemenuhan gizi yang sesuai standar. Namun, ia mengaku pihaknya tidak pernah dilibatkan.
“Kalau saya lihat kan dari kepala SPPG sampai ahli gizinya kan masih muda, kami di DKK juga punya ahli gizi yang sudah berpengalaman banyak. Kami dari DKK Kudus sangat terbuka jika ada yang ingin sharing dari pihak SPPG,” tambahnya.
Jurnalis: *Red
Eidtor: Tia















