KUDUS, Beritajateng.id – Ribuan hektar sawah di Kabupaten Kudus terancam gagal panen akibat banjir. Banjir ini bahkan telah merendam lahan pertanian selama hampir dua pekan terakhir.
Pemerintah Kabupaten Kudus melalui Dinas Pertanian dan Pangan (Dispertan) Kudus masih melakukan pendataan intensif terhadap lahan terdampak banjir sebelum mengusulkan bantuan bagi para petani.
Kepala Dispertan Kudus, Didik Tri Prasetiyo, menjelaskan proses pendataan sawah terdampak banjir terus bergerak karena kondisi di lapangan masih berubah.
“Lahan sawah baru dapat dipastikan puso atau gagal panen apabila terendam air lebih dari satu minggu,” katanya.
Setelah angka pasti diketahui, Didik menegaskan pihaknya akan mengusulkan bantuan berupa stimulan maupun bibit pengganti. Ia mengungkap tahun ini opsi bantuan cenderung mengarah pada penyediaan benih agar petani dapat segera melakukan tanam ulang.
Selain itu, Dispertan juga mendorong pemanfaatan program asuransi pertanian sehingga kerugian akibat gagal panen dapat diklaim sesuai ketentuan.
Saat ini sejumlah petani masih berupaya menyelamatkan tanaman padi dengan menguras air menggunakan pompa serta membuka saluran darurat agar genangan cepat surut.
Bupati Kudus Sam’ani Intakoris menegaskan bahwa banjir berdampak langsung pada perekonomian daerah, termasuk sektor pertanian yang menjadi tumpuan banyak keluarga.
“Kami meminta dinas terkait mempercepat inventarisasi lahan rusak agar proses pengajuan bantuan tidak berlarut.” katanya.
Pemkab Kudus, lanjutnya, juga membuka peluang pengajuan bantuan ke Pemerintah Provinsi Jawa Tengah hingga Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), termasuk permohonan benih padi.
Disisi lain, Sam’ani memastikan cadangan pangan daerah masih mencukupi. Ia optimistis Kudus tetap mampu menjaga ketahanan pangan apabila upaya pemulihan berjalan cepat dan petani segera kembali menanam.
“Kami berharap kolaborasi lintas instansi serta ketahanan warga menghadapi bencana dapat mempercepat pemulihan ekonomi pasca banjir.” harapnya.
Selain bantuan material, pemerintah juga mengingatkan pentingnya perbaikan infrastruktur irigasi serta tanggul sungai untuk mengurangi risiko banjir berulang.
“Evaluasi sistem drainase dan koordinasi lintas wilayah dinilai krusial agar kerusakan lahan pertanian tidak terus terulang setiap musim hujan.” pungkasnya.
Diketahui, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mencatat sedikitnya ada 1.970 hektar sawah yang tergenang lebih dari satu pekan.
Selain itu, banjir merendam 2.555 rumah warga, 75 sekolah, serta belasan fasilitas ibadah.
Data tersebut menunjukkan luasnya dampak bencana yang tidak hanya menyentuh permukiman, tetapi juga sendi ekonomi masyarakat pedesaan.
Jurnalis: *Red
Editor: Tia















