PATI, Beritajateng.id – Peringatan Hari Ibu menjadi momentum refleksi penting bagi perempuan untuk memperhatikan kesehatan mental dan perannya dalam keluarga.
Hal itu diangkat dalam Seminar Kesehatan Mental, Bedah Buku, dan Sosialisasi Kode Etik Netizen yang digelar Nasyiatul Aisyiyah Pati di Ruang Pragola Setda pada Minggu, 21 Desember 2025.
Kegiatan ini diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Ibu yang jatuh pada 22 Desember, sekaligus sebagai ruang edukasi bagi para ibu agar lebih sadar akan pentingnya menjaga kesehatan mental di tengah berbagai peran yang dijalani.
Ketua Pimpinan Daerah Nasyiatul Aisyiyah Kabupaten Pati, Mareta Puspitasari mengatakan, seminar ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman ibu terkait kesehatan mental, pengelolaan emosi, serta literasi digital.
“Seminar ini kami gelar untuk memperingati Hari Ibu sekaligus memberikan perhatian khusus pada kesehatan mental ibu.” jelasnya.
Selain itu, menurutnya Ibu perlu memiliki pengetahuan yang cukup, mulai dari mengenali burn out, pentingnya me time, hingga cara menghadapi luka mental.
“Kami juga mengarahkan agar ibu bijak bermedia sosial atau bahkan menuangkan perasaannya melalui tulisan dan buku,” katanya.
Kegiatan dengan tema “Melejitkan Potensi Perempuan dengan Kesehatan Mental Ibu Menuju Keluarga yang Tangguh” itu diikuti sekitar 20 peserta secara luring dan 50 peserta daring.
Seminar menghadirkan tiga narasumber utama, yakni dr. Nabila Syifa Marta Widanti yang membahas kesehatan mental ibu, Nailin RA terkait kode etik netizen, serta Catur Kristiyani dalam sesi bedah buku “Ada Luka di Balik Senyum Perempuan”. Hadir pula Pimpinan Daerah Muhammadiyah Pati dan perwakilan LPM STIP Pati.
Dalam paparannya, dr. Nabila menekankan bahwa ibu, baik pekerja maupun ibu rumah tangga, sama-sama memiliki beban emosional yang perlu dikelola dengan baik.
“Ibu memiliki banyak peran dan beban. Manajemen emosi sangat penting agar tidak berujung pada burn out, kecemasan, bahkan depresi.” paparnya.
Kendati demikian, menurutnya Ibu juga perlu memberi ruang untuk dirinya sendiri, mengenali jati diri, memiliki hobi, atau peran di luar rutinitas rumah.
“Merasa lelah dan sedih itu wajar, dan ibu berhak mengambil waktu untuk dirinya,” imbuhnya.
Sementara itu, Nailin RA mengajak para peserta untuk lebih bijak dalam bermedia sosial agar terhindar dari dampak negatif yang berujung pada tekanan mental maupun masalah hukum.
“Bijak bermedsos tanpa gobyos berarti menggunakan media sosial dengan penuh kesadaran dan kebijaksanaan. Banyak fenomena saat ini, seseorang tergesa-gesa membuat pernyataan atau membagikan konten, lalu menyesal karena dampaknya meluas.” tuturnya.
Edukasi ini, kata dia, diharapkan bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dan menjadi amal jariyah.
Pada sesi bedah buku, Catur Kristiyani mengungkapkan bahwa senyum perempuan sering kali menyimpan luka batin yang tak terlihat.
“Menjadi ibu itu tidak ada sekolahnya. Banyak perempuan memendam luka di balik senyum mereka. Buku ini berbicara tentang suara hati perempuan, dan sangat relevan dengan makna Hari Ibu,” ungkapnya.
Sementara itu, Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Pati, Muhammad Luqman menegaskan bahwa Al-Qur’an merupakan rujukan terbaik dalam pola asuh anak.
“Al-Qur’an adalah parenting terbaik. Peran ibu sangat luar biasa dalam menyiapkan generasi shalih dan shalihah. Karena itu, Al-Qur’an layak dijadikan rujukan utama dalam pendidikan keluarga,” pungkasnya.
Jurnalis: *Red
Editor: Tia















