PEKALONGAN, Beritajateng.id – Harga sejumlah komoditas sayur di wilayah Kabupaten Pekalongan merosot tajam hingga lebih dari setengah harga normal. Diduga, penurunan ini disebabkan liburnya operasional program makan bergizi gratis (MBG) selama masa libur sekolah.
Salah satu pedagang di Pasar Wiradesa, Ustadzah, menjelaskan penurunan harga menyasar sayur yang rutin disuplai ke dapur MBG seperti pokcoy, buncis, jipang atau labu siam, dan wortel.
“Kalau untuk MBG, produk yang sering masuk itu pokcoy, buncis, jipang sama wortel. Nah, sayur-sayur itu yang sekarang harganya turun drastis karena berkaitan dengan MBG,” ujarnya, Rabu, 1 Juli 2026.
Saat program MBG berjalan, ia mengungkap harga buncis bisa mencapai sekitar Rp12.000 per kilogram. Sementara saat MBG libur, harga sayuran tersebut kini turun menjadi Rp5.000 per kilogram.
Adapun harga pokcoy yang semula sekitar Rp11.000, kini turun menjadi Rp5.000 per kilogram. Sementara harga worter yang sempat menyentuh harga Rp14.000 per kilogram juga mengalami penurunan menjadi Rp12.000.
Untuk jipang atau labu siam, Ustazah menuturkan harga sebelumnya sekitar Rp8.000 per kilogram. Namun kini harganya turun menjadi berkisar Rp4.000 hingga Rp5.000 per kilogram di tingkat eceran.
Meski demikian, Ustadzah menegaskan tidak semua komoditas yang turun berkaitan dengan program MBG. Menurutnya, harga cabai memang ikut turun, tetapi penyebabnya bukan karena berhentinya program tersebut.
“Kalau harga cabai sebenarnya bukan karena MBG, karena MBG juga jarang pakai cabai. Kalaupun cabai turun, itu memang karena kondisi pasar yang lagi musim sepi,” katanya.
Ia juga mengakui harga sayuran pada dasarnya memang dipengaruhi kondisi pasokan dari daerah sentra produksi sehingga fluktuasi harga merupakan hal yang biasa terjadi.
“Tapi memang harga sayur itu naik turun tergantung dari pusatnya,” ujarnya.
Sebagai pemasok sayur untuk program MBG, Ustadzah mengaku liburnya MBG selama masa libur sekolah sangat mempengaruhi pendapatannya.
“Karena saya ini pemasok sayur untuk MBG, selama libur sekolah ini sangat berpengaruh ke pendapatan saya. Kalau MBG jalan harga sayur memang lebih mahal, tapi anehnya banyak yang cari. Sekarang harga murah seperti ini malah yang beli sedikit,” tuturnya.
Keluhan serupa disampaikan Mawar, pemasok berbagai bahan pangan ke dapur MBG di Kabupaten Pekalongan. Menurutnya, berhentinya penyerapan sayur oleh MBG selama libur sekolah membuat stok hasil panen menumpuk sehingga harga berbagai komoditas ikut merosot.
“Ya, harganya memang banyak yang turun. Hasil panen petani juga banyak yang terbengkalai karena tidak terserap dengan baik oleh pasar. Stok yang terlalu banyak akhirnya membuat harga jadi turun,” katanya.
Jurnalis: *Red
Editor: Tia















