REMBANG, Beritajateng.id – Dinas Pertanian dan Pangan (Dintanpan) Kabupaten Rembang mencatat produksi melimpah dalam panen tahun ini. Pada Februari ini, total produksi diperkirakan mencapai 46.000 ton gabah kering panen (GKP).
“Pada Januari, panen sudah berlangsung di lahan seluas 1.287 hektar dengan produksi mencapai 7.577 ton gabah kering panen. Memasuki Februari, potensi panen melonjak hingga sekitar 7.900 hektar dengan estimasi produksi setara 46.000 ton GKP,” kata Kepala Dintanpan Rembang, Agus Iwan Haswanto, Senin, 9 Februari 2026.
Dengan asumsi rendemen sekitar 50 persen, Agus mengungkap potensi gabah tersebut diperkirakan mampu menghasilkan sekitar 25.000 ton beras. Jumlah itu jauh di atas kebutuhan konsumsi masyarakat Rembang yang rata-rata hanya 5.000 ton per bulan.
“Dari potensi panen ini saja, stok beras cukup untuk sekitar lima bulan. Itu belum ditambah cadangan yang ada di Bulog maupun stok di gudang para pengusaha beras,” jelasnya.
Melihat potensi tersebut, Agus yakin stok kebutuhan beras di Kabupaten Rembang aman selama lima bulan kedepan. Bahkan pihaknya optimis kondisi tersebut dapat menghadapi lonjakan kebutuhan pangan menjelang Ramadan hingga Lebaran.
Sementara itu, panen raya diprediksi mulai berlangsung merata pada awal Maret. Meski demikian, panen dalam skala besar sebenarnya sudah lebih dulu terjadi sejak Februari di sejumlah wilayah seperti Kaliori, Sumber, Rembang Kota, serta beberapa kecamatan lainnya.
Tak hanya soal stok, Agus mengatakan kabar menggembirakan juga dirasakan para petani. Harga gabah kering panen di tingkat petani saat ini mencapai Rp7.100 per kilogram, berada di atas Harga Pembelian Pemerintah (HPP) sebesar Rp 6.500 per kilogram.
“Harga ini cukup baik dan sangat disyukuri petani. Namun kami berharap tetap ada keseimbangan, agar petani untung, tapi konsumen juga tidak terbebani,” ujarnya.
Agus mengakui harga gabah biasanya cenderung turun menjelang panen raya. Karena itu, pemerintah akan berupaya menjaga harga agar tidak anjlok di bawah HPP.
Untuk harga beras di pasaran, pemerintah juga menyiapkan langkah pengendalian. Saat ini, Harga Eceran Tertinggi (HET) beras medium ditetapkan sekitar Rp13.400 per kilogram, sedangkan beras premium sekitar Rp15.000 per kilogram.
“Jika diperlukan, kami akan melakukan intervensi melalui operasi pasar, gerakan pangan murah, dan langkah stabilisasi lainnya,” tegas Agus.
Jurnalis: *Red
Editor: Tia















