REMBANG, Beritajateng.id – Mayat seorang pria tanpa identitas ditemukan di wilayah Pantai Desa Tasikagung, Kecamatan Rembang, pada Rabu pagi, 29 Juli 2026. Saksi pertama kali melihat mayat saat hendak membuang sampah ke kontainer pada pukul 05.30 WIB.
Temuan tersebut kemudian dilaporkan kepada aparat kepolisian dan petugas terkait. Jenazah selanjutnya dievakuasi ke kamar jenazah RSUD dr. R. Soetrasno Rembang untuk penanganan lebih lanjut.
Kepala Seksi Informasi RSUD dr. R. Soetrasno Rembang, M. Nur Achdi Yustanto, menjelaskan bahwa rumah sakit hanya berfungsi sebagai tempat penitipan jenazah, sedangkan pemeriksaan visum dilakukan oleh dokter dari Puskesmas Rembang I sesuai wilayah ditemukannya korban.
“Untuk penemuan jenazah ini, RSUD hanya menjadi tempat penitipan jenazah. Kewenangan pemeriksaan visum dilakukan oleh dokter Puskesmas Rembang I. Hasil visum menjadi kewenangan penyidik kepolisian,” ujarnya.
Ia menambahkan, Tim Inafis Polres Rembang telah melakukan pemeriksaan, termasuk pengambilan sidik jari untuk mengidentifikasi korban. Namun hingga saat ini belum ada informasi mengenai identitas jenazah.
“Sampai sekarang kami belum menerima informasi mengenai identitas korban. Tim Inafis sudah melakukan pemeriksaan sidik jari, namun hasilnya masih menunggu dari pihak kepolisian,” katanya.
Sementara itu, dokter Puskesmas Rembang I, dr. Intan Puspitasari, mengungkapkan hasil pemeriksaan awal menunjukkan korban berjenis kelamin laki-laki dengan tinggi badan sekitar 170 sentimeter dan tidak ditemukan identitas apa pun.
Ia menuturkan saat ditemukan korban mengenakan enam lapis kaos, namun tidak memakai celana atau pakaian bagian bawah.
“Setelah seluruh pakaian dibuka, kami menemukan luka lama pada kedua ketiak hingga jaringan otot terlihat. Luka tersebut diduga merupakan abses atau infeksi bernanah yang sudah berlangsung cukup lama,” jelas dr. Intan.
Selain itu, ia menuturkan ditemukan luka di beberapa bagian tubuh, termasuk dahi sepanjang sekitar tiga sentimeter yang masih tampak mengeluarkan darah, serta luka di bagian belakang kepala. Pada area hidung juga ditemukan pasir yang diduga berasal dari air laut.
“Ditemukannya pasir di hidung memungkinkan korban masih sempat bernapas ketika masuk ke air. Dugaan sementara, korban mengalami infeksi berat yang memicu kondisi lemah atau pingsan, kemudian terjatuh ke laut dan tenggelam. Namun, itu masih sebatas dugaan awal dan bukan kesimpulan penyebab kematian,” terangnya.
dr. Intan menyebut tidak ditemukan tato maupun tanda pengenal khusus pada tubuh korban. Hingga saat ini belum ada keluarga yang datang mengakui jenazah tersebut.
“Kami hanya membantu menyebarkan foto wajah korban agar apabila ada keluarga yang mengenali bisa segera melapor,” ujarnya.
Terkait kemungkinan korban merupakan orang dengan gangguan jiwa (ODGJ), dr. Intan mengatakan hal itu belum dapat dipastikan. Namun, kondisi korban yang mengenakan enam lapis pakaian, sebagian berukuran sempit, serta luka yang sangat kotor menjadi salah satu indikasi yang perlu didalami.
“Pakaian yang terlalu banyak dan kondisi luka yang tidak terawat memang menjadi salah satu pertimbangan, tetapi untuk memastikan apakah korban ODGJ atau bukan tentu bukan berdasarkan temuan itu saja,” pungkasnya.
Hingga berita ini diturunkan, pihak kepolisian masih melakukan penyelidikan untuk mengungkap identitas korban serta penyebab pasti kematiannya. Masyarakat yang merasa kehilangan anggota keluarga dengan ciri-ciri tersebut diimbau segera menghubungi Polres Rembang atau RSUD dr. R. Soetrasno Rembang.
Jurnalis: Vicky Rio
Editor: Tia















