SALATIGA, Beritajateng.id – Sebanyak delapan kelurahan di Kota Salatiga masuk dalam kategori endemik demam berdarah dengue (DBD) atau daerah dengan wabah penyakit yang konsisten namun terbatas.
Delapan kelurahan tersebut yakni, Blotongan, Sidorejo Lor, Mangunsari, Dukuh, Kalicacing, Gendongan, Sidorejo Kidul, dan Cebongan. Wilayah ini dinilai memiliki potensi lebih besar terhadap penularan DBD, terutama saat curah hujan tinggi.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinkes Kota Salatiga, Prasit Al Hakim, mengatakan meski kasus DBD masih terkendali namun wilayah yang masuk kategori endemik tetap menjadi perhatian serius.
Menurutnya kewaspadaan harus terus diperkuat agar daerah rawan tidak menjadi titik lonjakan kasus, terutama saat musim hujan dengan intensitas tinggi berlangsung.
“Sejauh ini, kondisi penyakit menular di Salatiga masih terkendali. Namun, wilayah endemik tetap menjadi fokus pengawasan,” ujar Prasit, Kamis, 15 Januari 2026.
Menurut Prasit, curah hujan yang tinggi berpotensi menambah genangan air di lingkungan permukiman. Kondisi tersebut dapat menjadi tempat berkembang biak nyamuk aedes aegypti jika tidak diantisipasi dengan baik.
Sebagai langkah pencegahan, pihaknya terus mengintensifkan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) 3M Plus, khususnya di wilayah endemik DBD. Upaya ini meliputi menguras dan membersihkan tempat penampungan air, menutup rapat wadah air, serta mendaur ulang barang-barang bekas yang berpotensi menampung air hujan.
“Langkah tambahan juga dilakukan. Seperti larvasida pada genangan air yang sulit dijangkau, pemasangan kawat kasa pada ventilasi rumah, penggunaan kelambu dan lotion anti nyamuk, serta menghindari kebiasaan menggantung pakaian di dalam rumah,” terangnya.
Dari sisi pelayanan kesehatan, Prasit memastikan puskesmas dan rumah sakit di Salatiga dalam kondisi siap siaga. Pihaknya juga memastikan ketersediaan obat, cairan infus, tempat tidur perawatan, serta kesiapan tenaga kesehatan.
“Kami juga menekankan kecepatan penegakan diagnosis, pengobatan, dan penyelidikan epidemiologi apabila ditemukan kasus positif. Edukasi kepada pasien, keluarga, dan masyarakat tetap menjadi bagian penting,” ungkapnya.
Dinkes mengimbau masyarakat, khususnya yang tinggal di wilayah endemik, untuk lebih aktif memantau lingkungan sekitar rumah. Pemeriksaan jentik secara rutin dan kerja bakti menjaga kebersihan lingkungan dinilai efektif menekan risiko penularan DBD.
“Wilayah endemik bukan berarti pasti ada lonjakan. Dengan kepedulian bersama dan lingkungan yang bersih, DBD bisa dicegah,” pungkasnya.
Jurnalis: *Red
Editor: Tia















