SALATIGA, Beritajateng.id – Salah satu warga Kampung Butuh di Kelurahan Kutowinangun Lor, Kota Salatiga, Doni Prasetyo menjalankan tradisi ritual jamasan keris pada malam satu Suro atau 1 Muharram 1448 H, Senin malam, 15 Juni 2026. Di rumahnya, tampak puluhan keris berjajar rapi menunggu giliran menjalani ritual jamasan pada malam 1 Suro.
Untuk menjalankan ritual ini, Doni menyiapkan bambu berisi air kembang dan tumpukan jeruk nipis sebagai perlengkapan utama dalam prosesi tersebut. Asap dupa yang mengepul perlahan menambah suasana khidmat selama ritual berlangsung.
Usai salat Isya, Doni mulai mengeluarkan satu per satu keris dari warangka. Dengan telaten, ia menggosok bilah keris menggunakan jeruk nipis untuk menghilangkan kotoran sekaligus mengembalikan kilau logam yang mulai kusam.
Setelah dibersihkan, keris dicuci menggunakan air kembang sebelum dikeringkan dan dikembalikan ke sarungnya. Seluruh proses dilakukan dengan penuh kehati-hatian agar kondisi pusaka tetap terjaga.
Dalam setiap tahapan jamasan, doa-doa dipanjatkan sebagai harapan akan keselamatan, keberkahan, dan kebaikan bagi pemilik pusaka. Menurut Doni, nilai spiritual tersebut menjadi bagian yang tak terpisahkan dari tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Para pemilik keris tampak duduk bersila menyaksikan jalannya prosesi. Mereka menunggu dengan sabar saat pusaka miliknya dibersihkan. Sesekali terdengar percakapan ringan, namun suasana tetap terasa khusyuk.
Hingga menjelang tengah malam, Doni masih terus melakukan ritual jamasan terhadap pusaka-pusaka yang menyimpan jejak sejarah, kenangan, dan nilai budaya yang tak ternilai.
Menurut Doni, tradisi jamasan menjadi momentum untuk mengingat kembali pentingnya menjaga peninggalan budaya Jawa agar tidak hilang ditelan zaman. Keris tidak hanya dipandang sebagai benda bersejarah, tetapi juga simbol identitas budaya yang memiliki nilai seni dan filosofi tinggi.
“Tradisi jamasan keris pada malam 1 Suro ini menjadi bukti bahwa di tengah perkembangan zaman, sebagian masyarakat masih berupaya menjaga dan melestarikan warisan leluhur sebagai bagian dari identitas budaya Jawa yang terus hidup dari generasi ke generasi,” katanya.
Diketahui, jamasan merupakan salah satu tradisi yang masih dijaga sebagian masyarakat Jawa hingga kini. Namun bagi sebagian masyarakat Jawa, jamasan bukan sekadar kegiatan membersihkan benda pusaka. Tradisi yang rutin dilakukan saat malam 1 Suro itu juga sarat makna sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan budaya leluhur.
Jurnalis: *Red
Editor: Tia















