SALATIGA, Beritajateng.id – Capaian ruang terbuka hijau (RTH) di Kota Salatiga masih berada dibawah target nasional sebesar 30 persen. Dari total luas daerah Salatiga yang hanya sekitar 56,67 kilometer persegi, RTH kota tersebut baru 17 persen.
Untuk mengejar target 30 persen, Wali Kota Salatiga Robby Hernawan mengatakan strategi pendekatan konvensional berupa perluasan lahan hijau dinilai tidak lagi cukup realistis untuk wilayah perkotaan yang padat.
“Karena itu, Pemkot Salatiga mendorong strategi alternatif berbasis peningkatan kualitas dan intensitas ruang hijau melalui partisipasi masyarakat,” katanya dalam keterangan tertulis yang diterima wartawan, Selasa, 17 Februari 2026.
Menurutnya, konsep ruang terbuka hijau kini harus ditempatkan sebagai fondasi pembangunan daerah, sehingga bukan sekadar elemen pelengkap tata kota. Ia menegaskan berbagai inovasi digerakkan dari level rumah tangga hingga sekolah.
“Ruang terbuka hijau bukan lagi pelengkap pembangunan, tetapi harus menjadi inti pembangunan daerah. Kami mendorong inovasi berbasis rumah tangga seperti hidroponik, urban farming, serta gerakan tanam cabai dan padi kota sebagai kontribusi nyata mendukung target nasional 30 persen,” ujarnya.
Di lapangan, lanjut Robby, sejumlah program telah dijalankan. Di antaranya gerakan ibu-ibu PKK menanam pohon setiap Rabu Pon (Rabo Pon), pengembangan urban farming berbasis hidroponik dengan dukungan CSR perusahaan, serta program satu murid menanam dua pohon cabai. Program cabai sekolah tersebut juga diarahkan untuk membantu pengendalian inflasi daerah dari sisi pasokan komoditas pangan.
Selain itu, Pemkot juga mengenalkan program padi kering atau penanaman padi dalam pot di lingkungan rumah. Skema ini dirancang agar warga tetap bisa menanam padi tanpa perlu lahan sawah luas.
Dari sekitar 50 ribu rumah di Salatiga, apabila setiap rumah menanam 4–5 pot padi maka dalam satu siklus panen sekitar tiga bulan diperkirakan mampu menghasilkan hingga puluhan ton beras. Model ini diproyeksikan menjadi pelengkap strategi hijau sekaligus penguatan ketahanan pangan kota.
“Melalui pola inovasi dan kolaborasi lintas sektor, kami optimistis kesenjangan antara capaian RTH saat ini dan target nasional dapat dikejar secara bertahap, dengan pendekatan yang lebih adaptif terhadap karakter wilayah perkotaan,” tegasnya.
Jurnalis: *Red
Editor: Tia















