REMBANG, Beritajateng.id – Petani di Desa Pragu, Kecamatan Sulang, berhasil membuat inovasi alat pertanian berupa mesin eler tembakau. Dengan adanya mesin ini, waktu proses perajangan dan penjemuran tembakau lebih efisien dan hemat tenaga kerja.
Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian dan Pangan (Dintanpan) Rembang, Agus Supriyanto mengapresiasi inovasi yang digagas petani setempat. Menurutnya, mesin eler tembakau itu merupakan hasil modifikasi dari alat perajang manual yang kini bekerja secara otomatis.
“Dulu manual, sekarang sudah tidak. Begitu mesin rajang dihidupkan dan tembakau masuk, teteknya (alas penjemuran, red) langsung berjalan sendiri. Inovasi dari petani Pragu ini membuat pekerjaan lebih efisien. Yang semula butuh empat sampai lima orang, kini cukup dua sampai tiga orang saja,” ujarnya, Senin, 24 November 2025.
Ia menambahkan, hasil rajangan dengan mesin ini lebih banyak dalam durasi yang lebih singkat. Alat tersebut bahkan sudah dipakai sejak lama oleh pembuatnya dan mulai dipesan oleh petani dari luar daerah.
“Insyaallah akan kami sosialisasikan ke petani lain,” ujarnya.
Petani asal Desa Pragu sekaligus pengguna mesin tersebut, Narko membenarkan manfaat besar dari inovasi itu. Ia menyebut, produktivitas rajangan meningkat drastis dibanding cara manual.
“Dulu satu kali rajang butuh enam sampai tujuh orang. Sekarang tiga atau empat orang sudah cukup. Manual itu tiga orang paling dapat 25 sampai 30 tetek. Kalau pakai mesin eler ini, tiga orang bisa dapat 40 sampai 60 tetek per jam,” terangnya, Senin, 24 November 2025.
Ia mengungkap, apabila dikerjakan lima orang maka produktivitasnya melonjak hingga 90–100 tetek per jam dengan mesin eler tembakau.
“Efisien banget, enak, dan ringan biaya,” tambahnya.
Selain hemat tenaga dan waktu, kualitas rajangan yang dihasilkan juga lebih baik. Menurutnya, tembakau yang tidak segera dieler akan berubah warna menjadi buram, merah, atau hitam. Dengan mesin ini, proses rajang dan eler berjalan langsung sehingga hasilnya tetap bagus.
Narko mengungkap inovasi mesin eler bermula dari gagasan ayah dan pamannya pada 2019. Proses pengembangan berlangsung bertahap dari 2020 dan sempat menghadapi beberapa kendala, hingga akhirnya benar-benar bisa dimanfaatkan pada 2022.
“Sekarang mencari tenaga kerja susah, karena pada tanam sendiri. Kalau pakai alat ini cukup ajak satu orang saja. Keluarga saya tiga orang, tambah satu orang lain sudah jalan. Durasi 1–2 jam bisa selesai 100 tetek lebih,” tuturnya.
Jurnalis: Muhammad Faalih
Editor: Tia















