BLORA, Beritajateng.id – Serangan hama tikus terhadap padi membuat hasil panen di sejumlah wilayah di Kabupaten Blora mengalami penurunan. Salah satu wilayah yang menjadi sasaran tikus adalah Kelurahan Tambahrejo, Kecamatan Blora.
Di wilayah tersebut, hama tikus dilaporkan menyerang tanaman padi di beberapa titik sawah milik warga. Tanaman padi yang baru mulai berbulir tampak rusak bahkan mati akibat digerogoti tikus.
Petani mengaku sudah melakukan berbagai upaya untuk memberantas hama tersebut, mulai dari pemasangan racun hingga menutup lubang-lubang tikus di area persawahan.
“Sudah sebulan ini tikus menyerang. Padi yang mau jadi malah habis,” ujar Jumarno, salah satu petani Tambahrejo, Jumat, 23 Januari 2026.
Hal senada disampaikan Muji, petani lainnya. Ia menyebut serangan tikus membuat hasil panen menurun drastis.
“Kalau seperti ini terus, panen jelas turun. Kami hanya bisa berharap ada solusi dari pemerintah,” katanya.
Sementara itu, Dinas Pangan, Pertanian, Peternakan, dan Perikanan (DP4) Kabupaten Blora mencatat sedikitnya empat kecamatan menjadi wilayah endemik serangan hama tikus.
“Kecamatan Cepu, Kecamatan Kradenan, Kecamatan Kedungtuban dan sebagian Kecamatan Randublatung wilayah tersebut memang endemis tikus,” ujar Kepala DP4 Blora, Ngaliman.
Lebih lanjut, Ngaliman juga menuturkan bahwa ada lima kecamatan lainnya yang terdampak hama tikus, namun bukan termasuk wilayah endemik. Kelima wilayah itu yakni Kecamatan Banjarejo, Ngawen, Todanan, Jiken, dan Jepon.
“Wilayah Kecamatan Banjarejo yang terserang ada 46 hektar, wilayah Kecamatan Todanan ada 13 hektar, wilayah Kecamatan Ngawen ada 8 hektar dan Kecamatan Jiken, Jepon masing masing 3 hektar,” katanya.
Selain itu, di Kelurahan Tambahrejo sendiri, hampir sebagian besar tanaman padi terdampak serangan hama tikus. Rata-rata tanaman yang diserang berusia antara 1 hingga 2 bulan, atau berada pada fase rentan terhadap gangguan hama.
Ngaliman menyebut pemerintah telah mengalokasikan bantuan untuk pengendalian hama tersebut. Bantuan itu berupa rumah burung hantu dan obat rotisida di titik-titik wilayah endemik tikus.
Menurutnya, bantuan rumah burung hantu dikarenakan, hewan tersebut adalah predator alami untuk tikus.
“Tahun ini ada CSR dari instansi terkait langsung kita alokasikan berupa 80 buah rumah burung hantu ke wilayah Kecamatan Kedungtuban Desa Tanjung,” terangnya.
Jurnalis: *Red
Editor: Tia















