BLORA, Beritajateng.id – Program revitalisasi sekolah menyasar SMPN 1 Jepon, Kabupaten Blora. Tahun ini, sekolah itu mendapat anggaran sebesar Rp804 juta dari pemerintah pusat untuk melakukan perbaikan sarana prasarana pembelajaran.
SMPN 1 Jepon, Kabupaten Blora, mendapat anggaran Rp804,7 juta dari pemerintah pusat untuk program revitalisasi sekolah 2026. Pekerjaan yang dimulai sejak 25 Juli itu ditargetkan rampung 22 November.
Kepala SMPN 1 Jepon Eny Rubiyanti mengatakan revitalisasi telah dimulai sejak 25 Juli 2026 dan ditargetkan selesai 22 November 2026 mendatang. Saat ini pekerjaan tersebut telah memasuki tahap akhir pembangunan.
Ia menerangkan dengan bantuan ratusan juta itu pihaknya melakukan perbaikan pada delapan ruang. Progresnya kini telah masuk tahap finishing berupa pengecatan dan perbaikan di beberapa fokus pengerjaan.
“Kita mendapatkan rehab tujuh ruang kelas dan satu ruang UKS,” ujar Eny, Kamis, 8 Oktober 2026.
Menurutnya, program revitalisasi dari pemerintah cukup membantu sekolah dan masyarakat disekitar sekolah penerima. Selain memperbaiki ruang kelas yang selama ini tidak layak, program ini juga menekankan agar pekerja bangunan diambil dari warga sekitar.
“Alhamdulillah, kita ambil pekerja sekitar sekolah. Ada 15 pekerja yang kita libatkan,” ujarnya.
Para pekerja juga mendapatkan perlindungan BPJS Ketenagakerjaan. Eny mengatakan pihak sekolah rutin mengingatkan pekerja mengenai batas waktu pengerjaan agar proyek tidak molor dan selesai sesuai target.
“Saya selalu ingatkan terkait target waktu agar pembangunan tidak telat. Alhamdulillah para pekerja memahami,” katanya.
Di sisi lain, Eny mengungkap proses revitalisasi membuat sekolah harus mengatur ulang kegiatan belajar mengajar (KBM). Sebab SMPN 1 Jepon memiliki cukup banyak pelajar yakni mencapai 946 siswa yang terbagi dalam 30 rombongan belajar.
Sebanyak 128 siswa dari empat kelas pun, kata dia, sementara dipindahkan ke tempat lain, yang masih memungkinkan untuk mendukung KBM para siswa selama program revitalisasi berlangsung.
“Saat ini ada empat kelas yang kita pindahkan. Tiga kelas di lobby dengan sekat, satu kelas berada di lab IPA,” jelas Eny.
Pihaknya berharap program revitalisasi tetap berlanjut pada tahun-tahun yang akan datang. Sehingga ruangan yang saat ini tidak layak dan membahayakan kegiatan KBM dapat diperbaiki.
“Program ini membantu untuk perbaikan ruang kelas agar lebih apik dan nyaman untuk siswa. Harapan kami, ruang kelas yang masih membutuhkan sentuhan pemerintah, dapat segera diperbaiki,” harap Eny.
Salah satu pekerja, Siswanto, mengaku terbantu dengan adanya proyek revitalisasi tersebut. Warga Kelurahan Jepon itu kini memiliki pekerjaan selama pengerjaan proyek berlangsung.
“Di sini ada 15 pekerja dengan saya. Jadi untuk empat bulan ini saya punya pekerjaan,” kata Siswanto.
Menurut Siswanto, komunikasi dengan pihak sekolah menjadi kunci agar pekerjaan selesai sesuai target. Ia mengaku baru kali ini mengerjakan proyek dengan batas waktu yang ketat.
“Intinya di komunikasi. Saya biasanya mengerjakan tidak ada target seperti ini. Kalau proyek sekolah, baru kali ini,” ujarnya.
Untuk menjaga keselamatan siswa, area pembangunan juga diberi pembatas. Ia menerangkan hal itu dilakukan karena masih terdapat material bangunan dan aktivitas pekerjaan di sekitar sekolah.
“Kemarin waktu menaikkan genteng, kita kasih tali pembatas. Takutnya di bawah ada siswa yang lewat, nanti bisa membahayakan,” pungkasnya.
Jurnalis: Eko Wicaksono
Editor: Utia Lil















