KUDUS, Beritajateng.id – Sebanyak 48 sekolah dasar (SD) dan dua Sekolah Menengah Pertama (SMP) terendam banjir pada Senin, 12 Januari 2026. Akibatnya kegiatan belajar mengajar (KBM) di sekolah tersebut terpaksa dilakukan secara daring.
Kepala Bidang Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Kudus, Anggun Nugroho mengatakan sekolah-sekolah terdampak diperbolehkan mengalihkan KBM secara dalam jaringan (daring).
Kebijakan ini diambil sebagai langkah darurat agar proses pembelajaran tetap berjalan di tengah kondisi cuaca ekstrem.
“Kami mengimbau pihak sekolah untuk mengamankan aset, terutama dokumen penting dan peralatan elektronik. Untuk KBM, diperbolehkan dilaksanakan secara daring sampai kondisi memungkinkan,” ujar Anggun, Senin, 12 Januari 2026.
Diketahui, banjir mulai melanda sejumlah sekolah sejak Sabtu, 10 Januari 2026. Kondisi genangan bervariasi, mulai dari air masuk ke ruang kelas, ruang guru, hingga hanya menutup akses jalan menuju sekolah.
Di Kecamatan Jekulo, tercatat sembilan SD dan dua TK terdampak. Kecamatan Kaliwungu terdapat lima SD, Kecamatan Jati sembilan SD dan dua TK, Kecamatan Dawe tiga SD, serta Kecamatan Mejobo 14 SD.
Selain itu, di Kecamatan Bae ada enam SD dan tiga TK yang tergenang, serta dua SD lainnya di wilayah Mejobo. Untuk jenjang SMP, banjir merendam SMP Negeri 2 Undaan dan SMP Negeri 2 Mejobo.
Meski demikian, Anggun menyebut kondisi banjir di sebagian besar sekolah mulai berangsur surut. Sejumlah guru dan warga sekolah bergotong royong membersihkan lumpur dan sisa genangan agar aktivitas belajar bisa segera kembali normal.
Salah satu sekolah terdampak, SD 3 Mlati Lor, mulai membuka kembali pembelajaran tatap muka setelah banjir surut. Kepala sekolah, Murih menuturkan air mulai masuk sejak Sabtu pagi dan baru surut pada Senin pagi.
Dampak terparah terjadi di ruang kantor yang dipenuhi lumpur.
“Lumpurnya cukup tebal, terutama di ruang kantor. Setelah air surut, kami langsung bersih-bersih supaya sekolah bisa dipakai lagi,” kata Murih.
Ia mengungkapkan, kondisi banjir diperparah oleh penggalian selokan di sekitar sekolah. Alih-alih mengurangi genangan, aliran air justru lebih mudah masuk ke area sekolah saat hujan deras.
Untuk penanganan jangka panjang, pihak sekolah telah mengajukan rencana revitalisasi bangunan.
Namun, pengajuan tersebut masih difokuskan pada ruang kelas, sementara ruang guru belum masuk dalam prioritas perbaikan.
Jurnalis: *Red
Editor: Tia















