KUDUS, Beritajateng.id – World Health Organisation (WHO) telah menetapkan status darurat penyebaran penyakit Ebola. Penyakit yang berasal dari infeksi Ebolavirus di wilayah Kongo, Afrika Tengah tersebut dinilai memiliki tingkat penularan dan kematian yang cukup tinggi sehingga perlu diwaspadai sejak dini.
Menanggapi status ini, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus, dr. Abdul Hakam menyatakan bahwa kasus penyakit ebola hingga saat ini belum ditemukan di Indonesia. Meski demikian, masyarakat tetap diminta waspada terhadap penyebaran penyakit Ebola tersebut.
“Sampai saat ini kasus penyakit ebola tidak ada di Indonesia, tapi kami tetap meminta masyarakat waspada,” katanya.
Ia mengatakan, Kementerian Kesehatan telah menerbitkan surat edaran kepada daerah-daerah untuk memperkuat kewaspadaan terhadap potensi penyebaran virus Ebola. Langkah itu dilakukan setelah WHO menetapkan status darurat kesehatan internasional akibat meningkatnya kasus penyakit tersebut di sejumlah negara Afrika.
“WHO telah menetapkan status darurat kesehatan global, sehingga kami tetap meningkatkan kewaspadaan meskipun penyakit ini belum dikategorikan sebagai pandemi,” ungkapnya.
Dia menjelaskan, DKK Kudus akan memperketat pemantauan terhadap warga yang datang dari luar negeri, terutama dari kawasan Afrika yang menjadi wilayah penyebaran utama Ebola. Koordinasi dengan pemerintah pusat dan Kementerian Kesehatan juga terus dilakukan untuk memantau perkembangan situasi global.
Berdasarkan data yang diterimanya, virus Ebola telah menyebabkan 131 kematian dari total 513 kasus suspek. Tingkat fatalitas penyakit itu disebut berkisar antara 25 hingga 50 persen.
“Sehingga menjadi perhatian serius bagi pemerintah daerah dalam meningkatkan edukasi kesehatan masyarakat,” tambahnya.
Hakam pun meminta masyarakat untuk meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Hal itu sebagai langkah antisipasi mencegah penyebaran virus Ebola.
Langkah paling sederhana namun penting dalam menerapkan PHBS adalah membiasakan mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir guna meminimalkan risiko penularan penyakit menular.
Selain itu, masyarakat juga diminta disiplin menggunakan masker, menerapkan etika batuk dan bersin, serta menghindari kontak langsung dengan orang maupun hewan yang sedang sakit.
Menurutnya, perhatian terhadap kesehatan hewan peliharaan juga perlu ditingkatkan karena potensi penularan penyakit dapat berasal dari hewan tertentu.
“Budaya memelihara hewan seperti burung, kucing, maupun anjing cukup banyak. Karena itu, hewan peliharaan harus selalu diperhatikan kesehatannya dan dianjurkan untuk mendapatkan vaksinasi,” bebernya.
Hakam menambahkan, gejala umum Ebola ditandai dengan demam tinggi yang berlangsung lebih dari dua hari. Jika disertai batuk, pilek, mual, atau gangguan pencernaan, masyarakat diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat.
“Kelompok yang rentan tertular virus yaitu pada anak-anak dan lansia. Apalagi mereka membutuhkan banyak cairan, hal ini harus benar-benar diperhatikan,” pungkasnya.
Jurnalis: *Red
Editor: Tia















