PATI, Beritajateng.id – Program beasiswa untuk para mahasiswa Kabupaten Pati tersebut belum cair hingga tiga bulan terakhir. Akibatnya, satu mahasiswa dilaporkan terpaksa drop out karena masalah keuangan.
Beasiswa yang bersumber dari dana Corporate Social Responsibility (CSR) sejumlah perusahaan di Kabupaten itu, diketahui belum diterima para mahasiswa sejak April 2026.
Padahal bantuan tersebut menjadi tumpuan utama bagi banyak keluarga kurang mampu untuk membiayai pendidikan tinggi anak mereka yang berprestasi.
Salah satu orang tua penerima beasiswa, Sutomo, mengaku hingga pertengahan Juni belum ada pencairan bantuan yang biasanya diterima setiap bulan.
“Mulai April, Mei sampai Juni ini belum ada pencairan. Padahal bantuan itu sangat membantu untuk kebutuhan kuliah anak-anak,” ujarnya, Kamis, 18 Juni 2026.
Program Inisiasi Bupati Pati Nonaktif Sudewo
Program beasiswa bagi mahasiswa berprestasi kurang mampu tersebut merupakan terobosan Bupati Pati Non-Aktif Sudewo. Program ini mendapat dukungan dari CSR Bank Jateng, Baznas, dan sejumlah CSR dari lembaga dan perusahaan di Kabupaten Pati. Penandatanganan Mou dilakukan pada 28 Juli 2025 lalu.
Program unggulan Sudewo ini sebelumnya menetapkan 194 penerima manfaat, dengan total pendanaan CSR Bank Jateng Rp1,9 miliar.
Program ini merupakan wujud komitmen Pemkab Pati dalam membangun masa depan daerah melalui pendidikan. Namun, dalam perjalanannya jumlah penerima berkurang menjadi 183 mahasiswa berprestasi. Kini bantuan tersebut dikeluhkan karena penyalurannya macet.
Untuk diketahui, besaran bantuan bagi mahasiswa ini bervariasi. Mulai Rp1 juta per bulan untuk kategori kurang mampu, Rp1,5 juta untuk kategori miskin ekstrem, hingga Rp2,5 juta bagi mahasiswa Fakultas Kedokteran.
Bagi sebagian keluarga, bantuan tersebut bukan sekadar tambahan biaya pendidikan, melainkan penopang utama keberlangsungan studi. Karena itu, keterlambatan pencairan menimbulkan dampak serius.
Satu Mahasiswa Berprestasi Terpaksa Putus Kuliah
Sutomo mengungkapkan, dirinya menerima laporan bahwa salah satu penerima beasiswa akhirnya memilih keluar dari perguruan tinggi akibat keterbatasan ekonomi keluarga.
“Ada satu anak yang sebenarnya punya kemampuan akademik bagus. Tetapi karena orang tuanya petani dan tidak mampu menanggung biaya kuliah, akhirnya dia putus kuliah,” katanya.
Kondisi itu disayangkan para orang tua penerima manfaat. Mereka menilai potensi mahasiswa berprestasi bisa hilang hanya karena persoalan biaya pendidikan. Padahal, sebelumnya Pemkab telah menyatakan dukungannya.
Orang Tua Minta Kejelasan dari Disdikbud Pati
Sejumlah perwakilan orang tua diketahui telah mendatangi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Pati untuk meminta kejelasan. Namun mereka diminta bersabar menunggu proses pencairan.
Karena belum mendapatkan kepastian, para orang tua berencana mengajukan audiensi dengan Plt Bupati Pati Risma Ardhi Chandra dan Disdikbud Pati.
Sementara itu, Plt Bupati Pati Risma Ardhi Chandra menegaskan proses pencairan beasiswa masih berjalan dan meminta penjelasan teknis dikonfirmasi ke Disdikbud.
Kepala Disdikbud Pati, Sunarji menjelaskan proses pencairan saat ini masih berada pada tahap pengajuan kepada perusahaan pemberi beasiswa.
“Baru masuk ke perusahaan,” ujarnya singkat.
Jurnalis: *Red
Editor: Tia















