PEKALONGAN, Beritajateng.id – Banjir yang merecam wilayah Desa Mulyorejo, Kecamatan Tirto, telah berlangsung selama kurang lebih tiga pekan sejak 17 Agustus 2026. Dalam kondisi ini, perahu dayung menjadi sarana vital untuk membantu evakuasi warga dan distribusi bantuan.
Pelatih Tim Dayung Joko Tingkir, Dayono, mengatakan keterlibatan para atlet dalam kegiatan relawan merupakan bentuk kepedulian sosial yang tumbuh dari lingkungan mereka sendiri.
“Anak-anak tidak hanya latihan, tapi juga ikut membantu warga saat banjir. Perahu dayung ini sangat membantu untuk transportasi di desa,” ujarnya saat latihan sore, Minggu, 8 Februari 2026.
Dayono menjelaskan, Tim Dayung Joko Tingkir berdiri sejak 2014 dan mulai mengikuti event resmi pada 2015. Prestasi sempat diraih pada 2017 saat tim ini berhasil menjuarai perlombaan di Kabupaten Batang.
Di tengah keterbatasan sarana, latihan tetap berjalan rutin hampir setiap hari.
“Latihan dari jam empat sore sampai jam tujuh malam. Seminggu sekali libur, yaitu Kamis malam Jumat. Atlet dibagi menjadi tim A dan tim B, Tim B biasanya berlatih lebih awal, disusul tim A satu jam berikutnya.” Jelasnya.
Hingga kini, Dayono mengungkap tim dayung tersebut belum pernah menerima bantuan dari pemerintah daerah.
“Baru ada bantuan dari Balai Desa tahun 2022 berupa satu perahu naga. Perahu lain dulu bikin sendiri, tapi sekarang sudah rusak,” kata Dayono.
Seluruh kebutuhan latihan dan keikutsertaan lomba selama ini, kata dia, dibiayai secara mandiri melalui iuran atlet.
Dayono menambahkan, pihaknya telah mengajukan proposal bantuan ke pemerintah desa dan DPRD Kabupaten Pekalongan. Proposal tersebut berisi permohonan penambahan perahu naga dan perlengkapan dayung.
“Satu perahu naga untuk 10 orang membutuhkan anggaran sekitar Rp40 juta. Kalau dayung karbon satu set sekitar Rp45 juta. Kalau fasilitas latihan terpenuhi, perkembangan prestasi atlet akan jauh lebih optimal.” ungkapnya.
Selain sebagai sarana olahraga dan relawan banjir, aktivitas latihan dayung juga dinilai berpotensi dikembangkan menjadi destinasi wisata lokal.
“Saya rasa selain untuk persiapan lomba, perahu dayung ini juga memiliki potensi untuk kegiatan wisata.” Tambah dayono.
Sementara itu, salah satu atlet dayung, Adi Pratno, mengaku bergabung sejak 2019 karena kecintaannya pada olahraga dayung. Ia rutin mengikuti latihan setiap sore dari pukul 16.00 hingga magrib dengan fokus pada latihan kecepatan dan kekompakan mendayung.
Adi juga telah mengikuti berbagai kejuaraan di luar daerah, seperti di Jawa Timur, Jawa Barat, Tangerang, hingga Tangerang Selatan. Ia berharap adanya perhatian dan dukungan dari pemerintah daerah.
“Semoga diperhatikan dan dibantu, supaya semua pemain dan tim-tim lain makin semangat dan olahraga dayung Pekalongan bisa lebih maju,” pungkasnya.
Jurnalis: *Red
Editor: Tia















