PEKALONGAN, Beritajateng.id – Pekalongan Balloon Festival 2026 yang digelar di Stadion Hoegeng, Sabtu, 28 Maret 2026, berlangsung meriah dan disambut antusias ribuan masyarakat. Kegiatan ini dinilai efektif menekan angka penerbangan balon udara liar yang selama ini membahayakan keselamatan.
Wali Kota Pekalongan, Achmad Afzan Arslan Djunaid (Aaf), menyebut festival balon tambat menjadi solusi tepat untuk menjaga tradisi sekaligus meningkatkan aspek keamanan. Ia menilai penyelenggaraan tahun ini mengalami peningkatan, baik dari segi kreativitas peserta maupun tata kelola acara.
“Peserta tahun ini lebih kreatif, balon-balonnya lebih variatif. Dan yang tidak kalah penting, pelaksanaan di Stadion Hoegeng ini membuat area lebih tertata dan clear. Penonton kita arahkan ke tribun, sehingga lebih nyaman dan aman,”” ujar Aaf.
Antusiasme masyarakat terlihat dari membludaknya pengunjung hingga sebagian tidak tertampung di dalam stadion. Kondisi ini menunjukkan festival tersebut semakin diminati dari tahun ke tahun.
Meski demikian, masih ditemukan balon liar di sejumlah wilayah selama periode Lebaran. Tercatat sebanyak 22 balon liar terpantau mengudara, meski jumlah ini menurun dibanding tahun sebelumnya.
Aaf kembali mengingatkan masyarakat untuk tidak menerbangkan balon secara bebas. Selain berisiko terhadap keselamatan penerbangan, balon liar kerap disertai petasan yang membahayakan.
“Kami kembali mengimbau masyarakat, jangan menerbangkan balon liar. Mari kita lestarikan budaya ini dengan cara yang benar dan aman. Karena balon udara liar ini bisa membahayakan lalu lintas penerbangan, bahkan sering disertai petasan yang membahayakan,” tegasnya.
Direktur Keselamatan, Keamanan, dan Standardisasi AirNav Indonesia, Capt. Nurcahyo Utomo, mengungkapkan laporan pilot terkait balon liar turun dari 51 menjadi 22 laporan pada periode yang sama.
Penurunan ini menunjukkan meningkatnya kesadaran masyarakat untuk menerbangkan balon secara aman dengan sistem tambat. Ia juga mengingatkan bahwa wilayah udara Pekalongan merupakan jalur padat penerbangan nasional.
“Ini menunjukkan kesadaran masyarakat mulai meningkat. Terima kasih kepada masyarakat yang sudah mematuhi imbauan untuk menerbangkan balon secara aman, yaitu dengan diikat,” jelasnya.
Dari sisi peserta, kreativitas juga semakin berkembang. Wayan dari Tengok Team mengaku mengusung tema budaya Jawa dengan tokoh pewayangan dan membutuhkan waktu dua bulan dalam proses pembuatan.
“Tahun ini kami mengusung tema Javanese Culture, dengan unsur pewayangan seperti Gatotkaca, Srikandi dan Punakawan. Proses pembuatannya cukup rumit, butuh waktu sekitar dua bulan,” jelasnya.
Dari hasil penjurian, untuk pemenang Juara 1 dalam Pekalongan Balloon Festival diraih oleh Gertak Team dengan uang tunai Rp5.000.000,00; Juara 2 Tengok Team mendapatkan Rp3.000.000,00; Juara 3 Lengsa Team mendapatkan Rp2.000.000,00; Juara Favorit 1 Pecinta Seni Team mendapatkan uang tunai R1.250.000,00.
Kemudian Favorit 2 Squat Jenggot Team Rp1.150.000,00; Favorit 3 Bocah Tengok Team mendapatkan uang tunai Rp1.100.000,00 dan Juara Favorite 4 PPG Landung Sari Team mendapatkan Rp500.000,00. Selain uang pembinaan, masing-masing pemenang juga mendapatkan trophy dan piagam penghargaan.
Jurnalis: *Red
Editor: Tia















