KUDUS, Beritajateng.id – Program Gegas (Golek Garwo) yang diinisiasi Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdlatul Ulama (LKKNU) PCNU Kudus mendapat respon tinggi dari masyarakat.
Dalam waktu cukup singkat, jumlah pendaftar program Gegas tercatat sekitar 45 orang. Bahkan, program pencarian jodoh ini tidak hanya diminati warga Kudus sendiri, tetapi juga luar daerah seperti Pemalang.
LKKNU menargetkan peluncuran resmi program pencarian jodoh ini dilakukan setelah jumlah peserta mencapai minimal 50 hingga 100 orang.
Sekretaris LKKNU Kudus, Mohammad Solikul Huda, mengatakan program Gegas merupakan tindak lanjut hasil Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) di Semarang yang mendorong setiap daerah menghadirkan program unggulan berbasis kemaslahatan keluarga.
“Program Gegas ini lahir dari kebutuhan nyata di masyarakat. Banyak yang kesulitan mencari pasangan, sekaligus maraknya persoalan rumah tangga yang berujung perceraian,” ujarnya, Sabtu, 9 Mei 2026.
Menurutnya, program tersebut tidak sekadar mempertemukan laki-laki dan perempuan untuk menikah, tetapi juga membekali calon pasangan dengan edukasi serta pendampingan agar siap menjalani kehidupan rumah tangga.
Ia menilai, banyak pernikahan gagal disebabkan minimnya kesiapan mental, ekonomi, maupun pemahaman peran dalam keluarga.
“Menikah itu ibadah panjang, jadi tidak cukup hanya modal cinta, tapi juga kesiapan dan tanggung jawab,” tambahnya.
Selain membantu pencarian jodoh, LKKNU juga membuka layanan konsultasi keluarga bagi masyarakat yang telah menikah. Berbagai persoalan rumah tangga yang ditangani cukup beragam, mulai dari ketidakharmonisan, persoalan ekonomi, hingga perilaku menyimpang seperti kecanduan judi yang berdampak pada ketahanan keluarga.
Huda mengungkap pihaknya juga menemukan kasus rumah tangga yang bermula dari ketidakjujuran pasangan sejak awal hubungan.
“Ada juga kasus pernikahan yang sejak awal dibangun dengan informasi yang tidak jujur, misalnya soal pekerjaan. Setelah menikah, baru diketahui tidak sesuai fakta, dan akhirnya berujung perceraian,” ungkapnya.
Dalam pelaksanaannya, LKKNU menerapkan proses seleksi ketat bagi para pendaftar. Identitas peserta harus valid dan dapat diverifikasi, serta diwajibkan menandatangani surat pernyataan sebagai bentuk keseriusan mengikuti program.
Selain itu, pencarian pasangan juga mempertimbangkan berbagai aspek seperti kesesuaian usia, latar belakang, hingga kesiapan pribadi masing-masing peserta.
“Prosesnya tidak asal dipertemukan, tetapi juga mempertimbangkan kecocokan dan kesiapan masing-masing,” bebernya.
Tak hanya itu, LKKNU juga menyiapkan program bimbingan calon pengantin (bimcatin) secara mandiri. Materi yang diberikan meliputi pengelolaan keuangan keluarga, kepemimpinan dalam rumah tangga, hingga membangun keluarga sakinah, mawaddah, dan warahmah.
“Kalau pasangan paham peran masing-masing, potensi konflik bisa ditekan sejak awal,” jelasnya.
Ia menuturkan program ini tidak hanya diperuntukkan bagi lajang, tetapi juga terbuka bagi pasangan suami istri yang ingin berkonsultasi mengenai persoalan rumah tangga. Untuk mendukung layanan tersebut, LKKNU menggandeng berbagai pihak, termasuk psikolog serta lembaga perlindungan perempuan dan anak.
“Harapan kami, program ini bisa menjadi jalan ikhtiar bagi masyarakat untuk menemukan jodoh sekaligus memperkuat ketahanan keluarga,” pungkasnya.
Jurnalis: *Red
Editor: Tia















