BLORA, Beritajateng.id – PT Blora Patragas Hulu (BPH) mencatat pendapatan dari partisipacing interres (PI) atau aktivitas penambangan minyak di wilayah Blok Cepu mencapai Rp130 miliar pada 2025.
Dari perolehan itu, perusahaan milik Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Blora ini tercatat menyetorkan dividen hasil PI ke Pemerintah Kabupaten Blora sebanyak Rp127 miliar. Jumlah ini naik Rp27 miliar dibandingkan 2024 yang hanya Rp100 miliar.
“Perolehan itu tergantung dari produksi Exxon (operator atau kontraktor pengelola blok Cepu). Lalu pendapatan juga dipengaruhi harga minyak hingga kurs rupiah terhadap dolar,” ujar Direktur utama PT BPH Blora, Hamdun, Kamis, 4 Juni 2026.
Hamdun menjelaskan saat ini Exxon Mobil Cepu Ltd sempat mengalami penurunan produksi di Blok Cepu. Namun keuntungannya saat ini dinilai stabil berkat harga minyak yang mengalami kenaikan.
“Informasi terbaru, berdasarkan data SKK Migas, lifting minyak Exxon Mobil hingga 31 Mei 2026, tercatat mencapai 129.915 barel per hari (bph) atau 87,5 persen, dari target yang ditetapkan di APBN 2026 sebesar 148.500 barel per hari,” terang Hamdun.
Lebih lanjut, menurutnya penambangan minyak tetap memerlukan kajian dari perusahaan. Hamdun mendasarkan pada 3 prinsip usaha migas, yaitu cadangan minyak bumi, teknologi yang digunakan hingga permintaan pasar.
“Kalau prinsip alam, cadangan migas pasti semakin turun. Namun operator harus menjaga produksi harian sebagai pemenuhan pasar,” terangnya.
“Jadi menurut saya, tetap akan ada kajian untuk pembukaan lapangan baru,” sambung Hamdun.
Berdasarkan informasi sementara yang ia dapat, selain minyak bumi, Blok Cepu memiliki cadangan gas yang cukup besar. Menurutnya, hal itu juga akan menjadi pilihan sebagai keberlangsungan perusahaan atau operator pengelola Blok Cepu.
“Kalau menurut saya nanti akan bergeser ke gas alam. Tapi untuk gas terkendala serapan atau pasar yang dituju. Harus ada perusahaan yang menyerap hasil gas tersebut untuk kebutuhan industri,” ujarnya.
Jurnalis: *Red
Editor: Tia















