BLORA, Beritajateng.id – Petani tebu di Kabupaten Blora tercatat mengirimkan hasil panennya ke Pabrik Gula Kebun Tebu Mas (PG KTM) di Lamongan, Jawa Timur, sejak 2015 lalu, alih-alih ke PG Gendhis Multi Manis yang saat ini menuai polemik.
Salah seorang pemilik lahan tebu, Saiful Zaini, mengatakan pengiriman tebu yang dilakukannya ke PG KTM Lamongan telah berlangsung lebih dari satu dekade atau sejak tahun 2015.
Dalam sehari, pihaknya mengaku melakukan pengiriman tebu ke PG KTM Lamongan dengan rata-rata terdapat lima rit kendaraan.
“Dari awal nanam (tebu) kirimnya ke Lamongan,” ujar Saiful, Selasa, 2 Juni 2026.
Menurutnya, PG KTM Lamongan lebih mengutamakan kualitas dan varietas tebu yang dikirimkan petani. Selain itu, tidak terdapat persyaratan khusus lainnya dalam proses penerimaan tebu di pabrik tersebut.
“Disana (KTM Lamongan) mengutamakan kualitas dan varietas tebu,” katanya.
Saiful mengungkap tebu tersebut dijual dengan harga sekitar Rp750 per kilogram. Namun, ia mengungkap pendapatan petani masih harus dikurangi dengan biaya transportasi pengangkutan dari lahan menuju pabrik gula.
“Untuk angkutan sekitar Rp170 ribu per ton. Memang jaraknya cukup jauh, tetapi yang penting pengirimannya lancar,” katanya.
Saat ini, lahan tebu yang ia kelola mencapai puluhan hektar yang tersebar di tiga kecamatan, yaitu Kecamatan Tunjungan, Blora dan Jepon. Menurutnya lahan itu memiliki potensi panen dengan total produksi mencapai lebih dari 2000 ton dalam satu musim panen.
“Sekarang ada sekitar 30 hektar lahan tebu. Per hektar panennya bisa mencapai 80 ton,” katanya.
Janji Tak Kunjung Direalisasikan, Petani di Blora Gelar Aksi Tumpahkan Tebu di PG GMM
Saiful menjelaskan proses panen dan pengiriman tebu dilakukan secara bertahap menyesuaikan jadwal giling di pabrik gula KTM Lamongan. Jadwal pengiriman pun disesuaikan dengan waktu tebang tebu pada seluruh areal lahan.
“Sekitar lima bulan waktu panen yang dibutuhkan,” katanya.
Jurnalis: *Red
Editor: Tia















