KUDUS, Beritajateng.id – Empat desa di Kabupaten Kudus akan menggelar tradisi tahunan berupa kupatan pada hari ketujuh setelah Lebaran Idulfitri 1447 Hijriah. Tradisi kupatan tersebut pun tahun ini diprediksi akan ramai didatangi oleh pengunjung.
Sub Koordinator Destinasi Wisata pada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Kudus, M. Aflah menyebutkan, empat tradisi kupatan dengan konsep yang dirancang berbeda sesuai daerah masing-masing ini diantaranya yakni Parade Sewu Kupot di Desa Colo, Kecamatan Dawe.
Kemudian, ada Tradisi Kupatan Bulusan di Desa Hadipolo, Kecamatan Jekulo. Lalu Tradisi Kupatan di Sendang Jodo, Desa Purworejo, Kecamatan Bae serta Gebyar Kupatan dan Kirab di Desa Kesambi, Kecamatan Mejobo.
“Kami memprediksi ada empat tradisi kupatan yang akan ramai wisatawan tahun ini,” kata Aflah, Rabu, 25 Maret 2026.
Empat tradisi tersebut menurutnya sudah rutin diagendakan setiap tahun pada saat lebaran ketupat. Tradisi Sewu Kupat biasanya akan dipusatkan di Makam Sunan Muria dan Taman Ria Desa Colo dengan kirab sejumlah gunungan ketupat.
Sementara untuk Tradisi Kupatan Bulusan di Desa Hadipolo, Kecamatan Jekulo berisi rangkaian upacara yang dilakukan di Punden Mbah Dudo. Prosesi utama dalam tradisi ini adalah kirab gunungan ketupat, hasil bumi, jajanan pasar, dan miniatur bulus. Kemudian, dilanjutkan dengan prosesi sakral memberi makan bulus sebagai simbol penghormatan terhadap alam sekitar.
Selanjutnya untuk tradisi kupatan di Sendang Jodo akan dimeriahkan dengan kirab yang melibatkan banyak peserta dan diharapkan dapat menarik perhatian kaum muda-mudi yang berharap mendapatkan jodoh melalui simbolisme yang ada dalam acara tersebut.
Sedangkan untuk Tradisi Kupatan di Desa Kesambi biasanya akan dimeriahkan dengan gunungan serta perahu yang bisa digunakan untuk berkeliling rawa.
Aflah mengatakan, Disbudpar Kabupaten Kudus telah melakukan monitoring ke seluruh destinasi tradisi Syawalan tersebut untuk memastikan keamanan dan kelancaran setiap acara. Monitoring yang dilakukan yakni terkait kesiapan panitia serta berkoordinasi dengan Polsek masing-masing kecamatan.
“Contohnya untuk tradisi kupatan di Desa Kesambi itu kan dilakukan di objek wisata air, saat kami lakukan monitoring ternyata panitia sudah menyiapkan pelampung untuk wisatawan. Lalu juga sudah melakukan antisipasi kebencanaan besama dengan BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah),” paparnya.
Jurnalis: *Red
Editor: Tia















