KUDUS, Beritajateng.id – Badan Gizi Nasional (BGN) resmi menghentikan sementara operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Purwosari 1. Pemberhentian ini menyusul dugaan keracunan pada ratusan siswa penerima makan bergizi gratis (MBG).
Keputusan tersebut tertuang dalam surat Deputi Bidang Pemantauan dan Pengawasan BGN melalui Direktur Pemantauan dan Pengawasan Wilayah II, Albertus Dony Dewantoro.
Dalam surat itu, disebutkan bahwa penghentian dilakukan untuk kepentingan investigasi sekaligus menunggu hasil pemeriksaan laboratorium dari Dinas Kesehatan dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).
Selain itu, langkah penghentian sementara diambil berdasarkan laporan khusus Kepala SPPG Kudus Kota Purwosari 1 tertanggal 29 Januari 2026 terkait dugaan kejadian menonjol akibat konsumsi MBG, serta hasil pertimbangan pimpinan BGN.
“Untuk sementara SPPG Kudus Kota Kudus Purwosari 1 dihentikan operasionalnya sampai mendapatkan hasil pemeriksaan laboratorium dari Dinas Kesehatan dan BPOM, serta dinyatakan sesuai dengan ketentuan Surat Edaran Kepala BGN Nomor 4 Tahun 2025 tentang Percepatan Pengelolaan Keamanan Pangan,” tulis Albertus dalam keterangan resmi.
Perkembangan terbaru juga disampaikan Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus. Sekretaris Dinkes Kudus, Nuryanto, mengatakan hingga Senin, 2 Februari 2026 masih terdapat dua siswa yang menjalani perawatan inap.
“Sampai saat ini masih dua yang dirawat inap, yang satu di Rumah Sakit Mardirahayu dan satunya lagi di RSUD dr. Loekmono Hadi Kudus,” katanya.
Terkait hasil uji laboratorium, Nuryanto menuturkan proses pemeriksaan sampel makanan masih berlangsung dan membutuhkan waktu.
“Untuk sampel yang diperiksa belum keluar, butuh waktu delapan sampai sepuluh hari,” tambahnya.
Disisi lain, pihak sekolah juga mengambil langkah antisipatif. Kepala SMA Negeri 2 Kudus, Nur Afifuddin, menyampaikan bahwa sejak Jumat, 30 Januari 2026 lalu sekolah memberlakukan pembelajaran daring bagi para siswa terdampak.
“Sekolah sejak hari Jumat kami lakukan pembelajaran daring. Mulai Senin sudah masuk, tetapi bagi yang masih kurang sehat diperbolehkan daring sampai benar-benar pulih,” ujarnya, baru-baru ini.
Terkait distribusi kembali MBG, Nur menyebut pihak sekolah belum menerima pengiriman makanan dari SPPG lantaran sebagian siswa masih mengalami trauma pasca kejadian.
“Untuk distribusi MBG kami belum menerima karena anak-anak masih trauma. Kalau pergantian SPPG masih kami pertimbangkan,” imbuhnya.
Hingga kini, pemerintah daerah bersama BGN dan instansi terkait masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium guna memastikan penyebab pasti gangguan pencernaan yang dialami para siswa.
Jurnalis: *Red
Editor: Tia















