KUDUS, Beritajateng.id – Aktivitas penumpang di Terminal Tipe A Jati Kudus diperkirakan mulai menunjukkan tren peningkatan seiring mendekatnya libur Natal dan Tahun Baru (Nataru).
Kendati demikian, lonjakan penumpang dipastikan terjadi secara bertahap dan menyebar di sejumlah tanggal tertentu mengikuti pola libur sekolah, cuti kerja, serta kebiasaan para perantau.
Koordinator Satuan Pelayanan Terminal Tipe A Jati Kudus, Eli Risandi menjelaskan, pola pergerakan penumpang pada momen Nataru berbeda dengan Lebaran.
Menurutnya Lebaran identik dengan lonjakan tajam dalam waktu singkat. Sementara Nataru justru cenderung lebih landai dan terbagi.
“Posko angkutan Nataru secara nasional mulai aktif pada 18 Desember. Untuk potensi peningkatan penumpang diperkirakan mulai terasa pada 19 sampai 21 Desember, bertepatan dengan awal libur sekolah dan sebagian pekerja yang mulai mengambil cuti,” ujar Eli, Selasa, 23 Desember 2025.
Selain itu, ia menuturkan peningkatan kembali diprediksi terjadi pada 23 hingga 24 Desember, seiring adanya cuti bersama Natal.
Sementara untuk periode Tahun Baru, kata Eli, pergerakan penumpang diperkirakan muncul pada 27, 28, dan 29 Desember.
Menurutnya fluktuasi jumlah penumpang setiap tahun sangat dipengaruhi oleh perencanaan pribadi para perantau.
Hal ini disebabkan tidak semua masyarakat memilih pulang kampung setiap Nataru atau Lebaran. Ada pula yang pulang satu atau dua tahun sekali, sehingga di satu tahun lonjakan bisa tinggi, sementara tahun berikutnya relatif lebih landai.
Dari sisi asal dan tujuan perjalanan, Eli mengungkap wilayah Jabodetabek masih menjadi daerah dominan baik untuk keberangkatan maupun kedatangan penumpang di Terminal Jati Kudus.
Sementara itu, jam keberangkatan bus reguler biasanya ramai pada pukul 18.00 hingga 20.00 WIB, dengan peningkatan aktivitas hingga sekitar pukul 20.30 WIB. Khusus pada masa Nataru dan Lebaran, jadwal kedatangan bus kerap mengalami keterlambatan.
Menurut Eli, hal ini dipicu oleh kondisi lalu lintas yang sulit diprediksi, mulai dari kemacetan, kecelakaan, hingga rekayasa lalu lintas seperti sistem satu arah di jalur menuju dan dari Jakarta.
“Keterlambatan satu sampai dua jam itu sudah biasa, bahkan bisa mencapai lima jam. Namun sejauh ini masih bisa diantisipasi,” jelasnya.
Ia juga meluruskan anggapan soal bus yang tiba di Kudus dengan jumlah penumpang berkurang. Menurutnya tidak semua penumpang dari Jakarta memiliki tujuan akhir Kudus, sebab banyak yang turun lebih dulu di kota-kota seperti Semarang atau Demak.
Jurnalis: *Red
Editor: Tia















