PATI, Beritajateng.id – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pati mengusulkan tambahan kuota dalam Program Indonesia Pintar (PIP). Dari jumlah penerima 452 pelajar pada 2025, Pati meminta kuota penerima hingga 1.000 pelajar untuk tahun depan.
Plt Bupati Risma Ardhi Chandra menuturkan tambahan kuota PIP ini bertujuan membantu pelajar dari kalangan kurang mampu tetap mendapatkan akses pendidikan. Penerima program ini pun menyasar pelajar dari tingkat MI, MTs, hingga MA.
“Mudah-mudahan tahun depan ada penambahan kuota penerima PIP menjadi 1.000 siswa guna memperluas akses pendidikan bagi masyarakat,” kata Chandra di sela-sela penyaluran PIP bagi 452 siswa di Pendopo Kabupaten Pati, Minggu, 21 Juni 2026.
Kegiatan tersebut dihadiri Anggota DPR RI Eva Monalisa, Kepala Kementerian Agama Kabupaten Pati Ahmad Syaiku, Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Pemimpin Cabang BRI Pati, serta ratusan siswa penerima bantuan dan guru pendamping dari berbagai wilayah di Kabupaten Pati.
Ia memastikan penyaluran PIP bagi 452 siswa jenjang MI, MTs, dan MA berjalan tepat sasaran. Menurut Risma bantuan tersebut sangat penting untuk keberlangsungan pendidikan anak-anak di Pati.
Ia menjelaskan pendidikan merupakan salah satu sektor prioritas pembangunan daerah. Karena itu, berbagai upaya akan terus dilakukan untuk memperluas kesempatan belajar bagi generasi muda, termasuk melalui sinergi dengan pemerintah pusat.
“Kami ingin anak-anak Pati memiliki bekal ilmu pengetahuan, mampu menguasai teknologi, tetapi tetap memiliki pondasi akhlak yang baik. Itulah modal utama untuk menghadapi masa depan,” ujarnya.
Selain sektor pendidikan, Risma menyebut pemerintah daerah saat ini juga terus berupaya mempercepat pemulihan infrastruktur yang terdampak bencana banjir dan tanah longsor di sejumlah wilayah Kabupaten Pati.
“Kami menargetkan perbaikan infrastruktur yang terdampak bencana dapat diselesaikan secara bertahap pada periode 2027 hingga 2028 agar aktivitas masyarakat semakin lancar,” imbuhnya.
Sementara itu, Anggota DPR RI Eva Monalisa menegaskan PIP merupakan bentuk kehadiran negara untuk membantu peserta didik dari keluarga yang membutuhkan agar tetap dapat melanjutkan pendidikan.
“Jangan pernah menyerah karena keterbatasan ekonomi. Gunakan bantuan ini dengan baik untuk mendukung proses belajar dan meraih cita-cita setinggi mungkin,” ujarnya kepada para siswa.
Jurnalis: *Red
Editor: Tia















