PEKALONGAN, Beritajateng.id – Tanggul Kali Bremi di wilayah Pabedan, Kelurahan Kraton, Kecamatan Pekalongan Utara jebol pada Rabu, 7 Januari 2026 dini hari sekitar pukul 02.45 WIB. Akibatnya ratusan rumah terendam banjir.
Panjang tanggul yang jebol ini diperkirakan mencapai 35 meter. Hal ini membuat air bah mengalir deras ke kawasan padat penduduk serta wilayah permukiman warga. Tercatat sekitar 300 kepala keluarga (KK) terdampak, sementara sekitar 100 jiwa mengungsi.
Penanganan darurat langsung dilakukan sejak pagi oleh unsur Forkopimcam bersama PSDA dan pihak terkait. Camat Pekalongan Utara, Wismo Adityo, menjelaskan pemasangan tanggul darurat dilakukan menggunakan karung pasir yang diperkuat sesek dan kayu dolken untuk menahan aliran air.
“Tujuannya supaya air tidak terus-menerus masuk ke wilayah RW 12,” ujarnya.
Ia menambahkan, tanggul tersebut dibangun sekitar 2019. Diduga air sebelumnya merembes melalui rongga tanah hingga akhirnya meruntuhkan struktur dan jalur inspeksi di sampingnya.
“Akibat banjir ini, SD Pabean meliburkan kegiatan belajar, sementara lantai dua sekolah dimanfaatkan sebagai lokasi pengungsian warga,” tambah Wismo.
Dandim 0710/Pekalongan Letkol Arm Garry Herlambang, menyampaikan pihaknya telah menerjunkan satu SST prajurit. Dua regu berada di lokasi tanggul, sedangkan satu regu lainnya membantu persiapan logistik untuk pengungsian.
“Saat ini kita masih menunggu perlengkapan untuk penutupan darurat, seperti sandbag, sesek, dan terpal. Kalau material sudah datang, kita akan bergerak bersama-sama mempercepat penanganan,” ujarnya.
Meski genangan meluas, ia mengatakan hingga kini belum ada permintaan evakuasi resmi. Sebagian warga memilih mengungsi mandiri ke rumah kerabat dan tempat yang lebih aman.
Saat ini pemerintah menyiapkan langkah pemompaan yang akan difungsikan setelah tanggul darurat selesai dipasang. Dinsos dan BPBD juga menyiapkan dukungan logistik serta rencana dapur umum bersama TNI untuk memenuhi kebutuhan warga.
“Kalau material sudah datang, kita akan bergerak bersama-sama mempercepat penanganan,” imbuh Letkol Garry.
Fachruddin, warga RT 03 RW 12 sekaligus pengasuh Majelis Ta’lim Darul Khairot, menceritakan kepanikan yang terjadi saat air menerjang rumahnya.
“Hitungannya bukan menit, tapi detik. Tadi malam di dalam rumah hampir satu meter,” ujarnya.
Kesaksian serupa disampaikan Roni (50), warga Pabean. Ia mengatakan banjir kali ini paling parah dan membuat aktivitas masyarakat lumpuh, termasuk anak-anak yang tidak dapat bersekolah.
“Ketinggian air di rumah warga sekitar 20–50 sentimeter, bahkan lebih pada rumah yang lantainya rendah,” katanya.
Jurnalis: *Red
Editor: Tia















