REMBANG, Beritajateng.id – Bupati Harno mengaku telah menyampaikan keluhan para nelayan mengenai kenaikan harga BBM jenis solar ke Pemerintah Pusat melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).
“Saya sudah bertemu dengan Dirjen Perikanan Tangkap KKP,” ungkapnya.
Menurut Harno, KKP berjanji akan segera berkoordinasi dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) serta Kementerian Keuangan untuk mencari solusi terkait harga solar non subsidi bagi nelayan.
“KKP akan komunikasi dengan ESDM dan Menteri Keuangan. Mudah-mudahan segera ada solusi,” pungkasnya.
Diketahui, kenaikan harga solar ini membuat nelayan Kabupaten Rembang tidak bisa melaut akibat biaya operasional yang tinggi. Ratusan kapal berukuran diatas 30 Gross Ton (GT) pun masih terparkir di Pelabuhan Tasikagung, tanpa aktivitas.
Salah satu pemilik kapal, Kadromi, mengungkap kapal besar menjadi pihak paling terdampak karena bergantung pada solar non subsidi. Ia menyebut harga solar kini mencapai Rp30.550 per liter, melonjak drastis dibanding awal 2026 yang masih berada di kisaran Rp20.750 per liter.
“Yang paling terasa adalah kapal di atas bobot 30 GT,” ujarnya Rabu, 6 Mei 2026.
Sementara itu, kapal kecil di bawah 30 GT masih bisa mengandalkan solar subsidi dengan harga Rp6.800 per liter. Namun, akses untuk mendapatkan BBM subsidi pun menurutnya tidak mudah.
Kadromi mengungkap apabila dipaksakan melaut dengan harga solar saat ini, nelayan justru merugi.
“Ya sama saja kerja bakti, nggak akan bisa nutup biaya perbekalan,” keluhnya.
Keluhan serupa disampaikan Ketua Asosiasi Nelayan Jaring Tarik Berkantong Kabupaten Rembang, Lestari Priyanto. Ia menilai lonjakan harga solar sangat mencekik dan membuat nelayan berpikir ulang untuk berangkat melaut.
“Banyak teman-teman nelayan nggak jadi beli solar. Dari Rp14 ribuan jadi Rp28 ribuan per liter. Kalau dihitung-hitung nggak nyandhak (mencukupi, red) untuk operasional,” jelasnya.
Di sisi lain, nelayan kecil pun tak luput dari tekanan. Kuwadi, nelayan perahu cokrik, mengaku tetap harus melaut meski harus membeli solar eceran. Dalam sehari, ia membutuhkan sekitar 3 liter solar.
“Tergantung jarak melaut. Yang penting dapat solar untuk kerja,” katanya.
Ia menegaskan solar adalah kebutuhan vital bagi nelayan. Tanpa bahan bakar itu, nelayan kecil sepertinya tidak bisa bekerja dan menghidupi keluarga.
“Sudah solar sulit, pajak naik,” ungkapnya.
Dampak kenaikan harga solar juga mulai merembet ke tenaga kerja. Kuwadi menuturkan banyak anak buah kapal (ABK) kapal besar mulai mencari pekerjaan lain setelah berhenti melaut pasca Lebaran.
“Kalau ABK, hasilnya cuma buat makan. Nggak punya tabungan. Kalau nggak kerja, keluarga mau makan apa,” imbuh Kuwadi.
Jurnalis: *Red
Editor: Tia















