KUDUS, Beritajateng.id – Tradisi Laku Banyu Penguripan kembali digelar sebagai rangkaian peringatan Ta’sis ke-491 Masjid al-Aqsha Menara Kudus, Sabtu malam, 3 Januari 2026.
Ritual yang sarat nilai spiritual dan budaya ini dilepas langsung oleh Bupati Kudus Sam’ani Intakoris dari Pendopo Kabupaten Kudus dan berakhir di kawasan Menara Kudus.
Prosesi tradisi ini berlangsung khidmat di tengah suasana malam yang sempat diguyur gerimis. Namun cuaca berangsur cerah saat kegiatan dimulai. Bupati Sam’ani menyebut hal tersebut sebagai pertanda baik bagi kelancaran acara.
“Tadi Maghrib gerimis, Alhamdulillah sekarang sudah reda. Ini tanda kegiatan diridhai oleh Allah,” ujar Sam’ani.
Menurut dia, Tradisi Laku Banyu Penguripan tidak sekedar menjadi ritual religi dan budaya, tetapi juga memiliki potensi besar sebagai daya tarik pariwisata spiritual Kabupaten Kudus.
Tradisi ini dinilai mampu memperkuat identitas Kudus sebagai kota religius yang memiliki akar sejarah panjang.
“Semoga kegiatan berjalan lancar dan menjadi kekuatan destinasi pariwisata serta budaya di Kabupaten Kudus,” lanjutnya.
Sam’ani menegaskan, Pemerintah Kabupaten Kudus terus memberikan dukungan terhadap pelestarian tradisi tersebut. Ia menyebut Laku Banyu Penguripan yang kini memasuki pelaksanaan kelima kali merupakan warisan budaya yang harus terus dijaga.
“Pemkab Kudus mengapresiasi dan mendukung penuh. Ini sudah kelima kali digelar, dan akan terus kita uri-uri,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua Panitia Ta’sis ke-491 Masjid al-Aqsha Menara Kudus, Abdul Jalil, menjelaskan bahwa Laku Banyu Penguripan merupakan upaya menghadirkan kembali perjalanan spiritual Sunan Kudus dan para santrinya pada ratusan tahun silam.
“Kami memprosesikan situasi 491 tahun lalu. Istilah ‘laku’ menggantikan kirab, karena lahirnya Kudus didasari oleh laku batin, tirakat, dan doa,” jelas Jalil.
Ia menambahkan, air yang digunakan dalam prosesi tradisi ini memiliki makna simbolik mendalam. Sebab, air tersebut dikumpulkan dari 554 punden dan belik di seluruh Kabupaten Kudus, ditambah air dari para wali, Sultan Fatah, Ibrahim Asmorokondi, serta disempurnakan dengan air zamzam.
Tak kalah penting, Jalil menjelaskan obor yang dibawa peserta bukan sekadar elemen seremoni. Menurutnya obor tersebut melambangkan cahaya harapan bagi masa depan Kudus.
“Sebagaimana kisah Nabi Musa yang mendapat petunjuk dari titik api, obor ini menjadi simbol harapan agar dari Kudus lahir kehidupan yang lebih baik,” pungkasnya.
Jurnalis: *Red
Editor: Tia















