KUDUS, Beritajateng.id – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) mulai menata ulang kawasan pedagang kaki lima (PKL) Colo.
Penataan ulang PKL Colo ini dilakukan dengan skema revitalisasi dan pengembangan jalur wisata yang lebih terarah usai terbengkalai bertahun-tahun. Sejak 13 Oktober 2025, Disbudpar melakukan rehabilitasi terhadap 20 unit kios di area terminal PKL Colo.
Sekretaris Disbudpar Kudus, Agus Susanto mengatakan anggaran penataan ulang PKL Colo mencapai Rp1,03 miliar. Saat ini progres pembangunan dilaporkan telah mencapai 28,47 persen, sedikit melampaui target rencana 26,87 persen.
“Ada deviasi positif 1,61 persen. Targetnya rampung 75 hari,” ujar Agus.
Upaya pembenahan ini menurutnya bukan semata soal memperbaiki bangunan kios yang telaj mangkrak sejak lama. Pemerintah menilai persoalan terbesar PKL Colo terletak pada tidak adanya alur kunjungan wisatawan yang diarahkan ke kawasan ekonomi warga.
Selama ini, arus wisatawan ke Colo cenderung langsung menuju area wisata utama tanpa bersinggungan dengan terminal PKL.
“Kami sedang mengevaluasi jalur kunjungan wisata. Pergerakan wisatawan harus melewati kawasan ekonomi warga agar pedagang kembali mendapat manfaat,” jelasnya.
Kondisi PKL Colo menurutnya memang memprihatinkan. Sejak 2018, mayoritas pedagang meninggalkan bangunan berlantai tiga yang dibangun dengan anggaran Rp23 miliar tersebut.
Dari total 150 kios, kini hanya enam pedagang yang masih bertahan di lantai tiga. Lantai dua bahkan tak lagi dihuni satu pun pedagang.
Ia mengakui adanya keluhan pedagang soal minimnya sosialisasi pembangunan kios baru. Namun Agus menegaskan bahwa pihaknya telah mengundang pedagang dua kali untuk berdiskusi.
“Mungkin yang merasa tidak tahu memang tidak hadir saat undangan. Komunikasi tetap kami buka,” tegasnya.
Meski kawasan lama mangkrak, pemerintah tetap membangun kios baru berukuran 3 x 2,75 meter di area depan terminal. Sebanyak 70 kios sudah ditempati pedagang, dan kini 20 kios tambahan sedang dikerjakan.
Pemerintah menilai konsep transit wisata dan penataan jalur kunjungan dapat menjadi kunci kebangkitan PKL Colo.
“Potensinya masih ada. Colo pernah ramai dan bisa ramai kembali jika konsepnya tepat,” pungkas Agus.
Di sisi lain, Ketua Paguyuban Pemilik Kios dan Warung Terminal Colo, Abdul Rohman, mengaku kaget dengan pembangunan kios baru karena merasa belum pernah mendapat sosialisasi.
Ia berharap pemerintah kembali menghidupkan wacana lama, yaitu perluasan area parkir bus yang disebutnya dapat menarik ulang arus wisatawan.
“Kalau parkir bisa menampung lebih dari 50 bus, Colo pasti hidup lagi,” pungkasnya.
Jurnalis: *Red
Editor: Tia















