KUDUS, Beritajateng.id – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus menyiapkan langkah strategis untuk mengatasi masalah mahalnya pupuk dan biaya penanaman yang menghambat produktivitas tebu.
Bupati Sam’ani Intakoris mengatakan, diantara langkah strategis itu yakni program bongkar ratoon atau tanam ulang ratusan hektar, perluasan lahan, pendampingan petani, serta pembukaan akses permodalan.
Bupati Kudus Sam’ani Intakoris menegaskan bahwa peningkatan produktivitas tebu harus diiringi dengan perbaikan sistem budidaya, kemudahan akses pupuk, serta pendampingan teknis berkelanjutan.
“Upaya ini diharapkan mampu menekan biaya produksi, meningkatkan hasil panen, sekaligus memperkuat peran petani Kudus dalam mewujudkan swasembada gula nasional,” harapnya.
Ia menilai Kudus memiliki potensi besar mendukung program swasembada gula nasional 2028.
“Keberlanjutan menjadi kunci. Bukan sekadar tanam dan panen, tapi bagaimana petani bisa mandiri dan sejahtera secara berkelanjutan,” tegasnya.
Sementara itu, petani tebu asal Desa Terban, Edi Purnomo mengatakan bahwa pupuk subsidi seperti Phonska dan Urea masih menjadi andalan utama. Namun, harga Phonska saat ini berkisar Rp92 ribu per sak.
Meski cukup membantu, menurutnya keterbatasan stok sering membuat petani harus mencari ke kios lain, bahkan membeli pupuk non subsidi dengan harga lebih mahal.
“Kebutuhan pupuk bisa mencapai sekitar 2,5 ton per hektar. Kalau tidak dapat subsidi, biaya tanam tentu melonjak. Belum lagi biaya bongkar ratoon,” ujarnya, baru-baru ini.
Menurut Edi, proses bongkar ratoon membutuhkan biaya besar yakni mencapai sekitar Rp34 juta per hektar. Ia mengatakan prosesnya memakan waktu dua hingga tiga minggu, sementara masa tanam hingga panen tebu sekitar 10-11 bulan. Kondisi ini membuat permodalan menjadi isu sensitif bagi petani kecil.
Hal serupa disampaikan Ketua Gapoktan Bangunharjo, Karsono. Ia menjelaskan bahwa lahan tebu perlu dibongkar setelah beberapa kali rotasi tanam karena produktivitas menurun.
Ia mengungkap hasil panen pada tahun lalu rata-rata berada di kisaran 60–70 ton per hektar. Setelah bongkar ratoon, ia berharap produksi bisa meningkat hingga 80–90 ton per hektar.
Meski biaya tinggi, Karsono mengapresiasi bantuan bibit dan dukungan tenaga kerja dari pemerintah yang dinilai mampu meringankan beban petani.
“Hasil panen tebu selama ini disetorkan ke Pabrik Gula Rendeng dengan harga sekitar Rp75 ribu per kuintal.” katanya.
Jurnalis: *Red
Editor: Tia















